Muli's Site

Muli's posts with tag: cerita

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerita
Blog EntryMemanfaatkan PeluangMay 8, '07 4:33 AM
for everyone

Memanfaatkan peluang

 

Kata orang betawi bilang, hidup di Jakarta atau/dan sekitarnya jauh lebih enak dari pada hidup didaerah-daerah lain. Di Jakarta apa pun bisa dijadikan duit, asal mau jalan, asal mau malu, asal mau susah dikit, asal mau, asal mau, asal mau…, pokoknya intinya ASAL MAU USAHA kita pasti bisa dapat uang walaupun itu hanya cukup untuk makan, tapi yang penting halal.

 

Mau jadi pemulung, mau jadi pedagang asongan, mau jadi pengemis, mau jadi pengamen, mau jadi segala macam tukang makanan apaaa aja, asal mau usaha, semua bisa mendatangkan rezeki.

 

Salah satu yang paling mudah, coba kita lihat, sekarang ini disetiap perempatan jalan, dibelokan sempit, di jalanan rusak, apalagi jalan yang agak-agak ruwet pasti disitu ada satu dua orang yang “ngatur jalan” untuk kelancaran jalan kendaraan terutama mobil, cuma bermodalkan "mau berdiri ditengah jalan"  Mereka-mereka itu bukan hanya sekedar ngatur jalan yang gratisan gantiin atau bantuin pak polisi,  tapi ada maunya, mereka walau tidak memaksa (tapi kadang ada juga sih yang maksa) meminta imbalan sekedarnya tapi hasilnya bisa dibilang lumayan, apalagi sekarang kalau dikasih Rp. 100 (baca : cepek) mereka kadang cemberut, atau yang lebih ekstrim lagi tuh duit dibuang, tapi pada intinya mereka bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mencari rezeki.

 

Terpikir oleh ku, peluang apa yang bisa aku manfaatkan untuk dijadikan penghasilan. Suatu pagi aku jalan-jalan disekitar tol baru didaerah Jatiasih, masih disekitaran rumahku. Daerah ini adalah pintu masuk kendaraan orang-orang yang kebanyakan mau berangkat kantor, aku melihat dipinggiran jalan ada berapa orang jualan, penjual soto, penjual tahu sumedang, penjual rokok, dan tambal ban.

Akh ada ide nech, kenapa gak dicoba aja nech kita jualan makanan sarapan pagi  untuk para pengendara atau orang-orang yang mau berangkat kerja dan nggak sempat sarapan. Pakai system take away aja, jadi mereka tidak kehilangan waktu banyak, bahkan kalau ditol macet, mereka bisa sambil sarapan ditengah kemacetan.

 

Ternyata peluang itu masih ada, tinggal kita memanfaatkannya dengan modal yang tidak terlalu besar kusuruh anak ku, keponakan ku untuk mencoba jualan makan sarapan seperti : Nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, bihun goreng, lontong sayur dan kue-kue. Eeh, ternyata lumayan lho peminatnya cukup banyak, dan yang belipun lumayan bervariasi.

 

Jadilah sekarang ini setiap pagi keluargaku berjualan dipinggir pintu masuk jalan tol Jatiasih, mereka stand-by jam 06.00 sampai jam 10.00. Walau masih usaha kecil-kecilan lumayanlah buat jajan mereka. Mereka bersemangat sekali berjualan disitu, hitung-hitung mengajarkan kepada mereka untuk berusaha yang bisa mendatangkan rezeki, karena rezeki itu tidak turun dari langit tapi rezeki itu harus dicari dan yang penting kita bisa  memanfaatkan peluang.

 

Buat teman-teman yang kalau berangkat kantor lewat jalan tol Jatiasih, silahkan mampir dan beli aneka makanan sarapan  untuk anda semua.

 

Dijamin halal dan so pasti bersih tentunya, harganya juga terjangkau, cobain deh….

(hi hi hi cerita sekalian promosi).

 


Blog EntryKehidupanMar 28, '07 4:13 AM
for everyone

Sekar

By Muli

 

 

Perih dan hancur sekali rasanya hatiku, ketika anakku datang kepada ku dengan berita yang diluar alam pemikiran ku saat itu.

Hari Minggu pagi itu Sekar anak ku datang dengan raut wajah seperti biasanya cantik dan segar,langsung menghampiriku didapur

“Bunda, aku ingin bercerai dari Mas Pram” perkataannya meluncur tanpa aling-aling

Aku menarik nafas, tenang, tenang, batinku bicara, aku tetap memegang bunga kol yang tengah aku siangi didapur.

Kamu tidak sedang bercanda dengan Bunda kan nak, kataku dengan muka yang aku buat seceria mungkin

“Nggak bunda, aku serius, mungkin ini jalan yang terbaik buat kehidupan aku, kembali anakku bicara dan kali ini dengan wajah serius namun penuh kesedihan.

Merah, kuning, hijau bintang-bintang bertebaran dikepalaku, ada apa ini, kenapa secepat ini, padahal selama ini mereka adem ayem dan tak nampak kalau ada masalah besar dalam kehidupan mereka.

Baru dua tahun perkawinan mereka, seharusnya mereka masih mereguk manis madunya perkawinan,

Ada apa sayang, koq kata “cerai” yang langsung keluar, jangan emosi nak, tenang, kamu harus sabar menghadapi suami mu, apalagi perkawinan kalian masih baru, lanjutku”

“Bunda ini adalah pemikiran yang amat sangat tenang, keputusan ini sudah aku pertimbangkan sejak enam bulan yang lalu, aku ternyata tidak bisa hidup berbagi dengan wanita lain.

Aku terduduk, tak ada lagi selera untuk memasak kutinggalkan dapur sambil membimbing anakku keruang tengah

Sekar anak perempuan ku satu-satunya.Semua orang pasti akan mengatakan kalau dia itu cantik, manis, dan ramah, namun dalam usia yang menurutku masih terlalu muda dimasa itu yaitu 22 tahun, datang kepadaku  dengan rona bahagia mengatakan bahwa mas Pram pacarnya mau datang kerumah bersama keluarganya untuk melamar.

Waktu itu aku terkejut karena belum siap untuk kehilangan anakku. Sekar baru saja lulus D III sekolah sekretaris, aku ingin dia menikmati hidupnya dulu dengan bekerja dan punya penghasilan sendiri, aku ingin dia mandiri dulu, aku ingin dia berkarir aku ingin suatu saat dia bisa membantu sekolah adiknya Guruh yang perlu pendidikan tinggi karena dia laki-laki.

Kenapa secepat itu nak, tanyaku waktu itu

Apa kamu tidak mau merasakan bagaimana nikmatnya orang bekerja, seperti bunda misalnya, apakah kamu tidak mau merasakan punya uang dari hasil sendiri? Apakah kamu sudah siap untuk melayani suami mu lahir batin sebagaimana layaknya seorang isteri, semua pertanyaan pertanyaan itu masih lekat dalam pikiranku.

Insyaallah siap bunda, aku siap menjadi isteri mas Pram, aku akan belajar menjadi seorang isteri yang baik buat mas Pram, begitu anakku menyerang kata-kata ku.

Apakah kamu tidak mau kerja dulu merasakan dapat duit sendiri, tanyaku ulang untuk meyakinkan hatiku.

Jawab Sekar waktu itu lebih membuat aku lemas.

”Mas Pram melarang aku untuk bekerja, mas Pram bilang dia tidak ingin punya isteri wanita karir, dia ingin isteri yang  benar-benar akan menjadi ratu rumah-tangga

Akh ternyata sempit sekali pemikiran pacar anakku itu, lalu bagaimana dengan kuliah anakku, sekian tahun aku banting tulang bekerja untuk membiayai sekolah, kuliah anak-anakku, sekarang dilepas tanpa ada hasil, apa arti perjuanganku yang telah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk sekolah dan hidup mereka, sampai aku ikhlas untuk turun-naik bus, bergantung didalam bus, terkadang sakit pun tak kurasakan demi anak-anakku. Aku berkeinginan Sekar punya karir yang lebih baik dari bundanya

 

‘Bunda tak perlu kuatir tentang hidupku , Sekar membuyarkan lamunanku

Mas Pram telah siap membiayai seluruh hidupku tanpa aku harus bekerja dan aku juga sudah punya komitmen dengan mas Pram untuk bantu Bunda dan Guruh secara financial.

 

 Bukan itu maksud bunda nak, aku langsung menyela, bunda ingin kamu mandiri dan matang dalam hidup dan kehidupan nanti, bunda ingin kamu tidak bergantung dengan orang lain, dimana pada satu saat kita mengalami hidup yang benar-benar diluar dugaan kita, seperti bunda misalnya bercerai dari Ayahmu, bunda bisa melanjutkan hidup bunda tanpa harus mengharapkan bantuan orang lain.

Insyallah perkawinanku nanti tidak akan berakhir seperti perkawinan Bunda dengan Ayah, lanjut Sekar.

 

Masih ingat dipikiranku Sekar membandingkan aku yang bekerja untuk mereka

“Bunda, sela Sekar, bunda kerja untuk apa tanya nya waktu itu, untuk dapat uang kan, jawabnya langsung tanpa menunggu jawabanku. Bunda kerja karena kita butuh penghidupan, karena aku dan Guruh butuh biaya sekolah, karena kita butuh hidup, tau nggak bunda, hati kecilku sedih melihat bunda harus berangkat pagi, pulang larut malam karena mencari uang. Nah, insyaallah hidupku tidak begitu, hidupku akan cukup secara financial karena usaha Mas Pram yang sudah mapan.

 

Aku terdiam, anak muda itu bernama Pramudya, diusianya yang baru 26 tahun, dia sudah sukses sebagai pengusaha ternak sapi, dan itu murni dari usaha dan jerih payahnya sendiri. Sebagai peternak sapi, dia betul-betul memulai usahnya dari bawah, tanpa bimbingan orang tua, karena orang tuanya termasuk orang tua yang kurang mampu, dan kurang dalam pendidikan, begitu ceritanya padaku, tapi dia gigih, ulet, otak bisnisnya dari muda sudah nampak. Pendidikannya hanya sampai SLA. Anaknya baik, sholeh dan kelihatan tegas.

‘Bunda mikir apa lagi, kembali Sekar memecah lamunanku, yang penting sekarang Bunda harus merestui pernikahanku dengan Mas Pram, masalah Ayah nanti aku akan bicara sendiri dengan nya.

Itulah pembicaraan terakhir ku dengan Sekar sebelum akhirnya aku “menerima” lamaran Pram dan keluarganya.

 

Dengan biaya yang memang telah aku siapkan dan kumpulkan bertahun-tahun, serta pemberian dari besan ku,  pesta itu digelar dengan lumayan meriah.

Anakku Sekar, belum sempat aku mengecap hasil dari buah yang kutanam selama ini sudah harus diambil orang, itulah pikiran terburukku terhadap anakku waktu itu, tapi sudahlah aku ikhlas, karena ini adalah kehendak Allah. Allah telah memberi jodoh yang baik untuk Sekar, semoga Allah juga akan memberi kebaikan pada hidup rumah tangga anakku. Tugasku sudah selesai disaat mereka ijab-kabul dan mengiringi mereka kegerbang kehidupan yang baru.

 

Tiga bulan setelah pernikahan, mereka membeli sebuah rumah dengan kontan tanpa cicilan,  dilingkungan yang cukup elit. Rumah besar bertingkat, dengan penghuni yang masih pengantin baru mungkin benar kata Sekar waktu itu, bahwa secara financial mereka cukup, seusianya dulu aku mendapatkan rumahku dengan cara mencicil selama 15 tahun.

Yaah mungkin ini buah dari pohon yang ku tanam, aku bahagia melihat kehidupan Sekar.

 

Lamunan ku buyar ketika Sekar berbaring dipahaku dan menangis

Bunda Mas Pram telah menikah lagi secara diam-diam kali ini aku benar-benar terkulai, dan sekarang isterinya telah hamil 3 bulan, lanjutnya.

Ya Allah dosa apa yang telah aku perbuat, kenapa anakku harus mengalami nasib yang sama seperti aku. Lelaki yang kami cintai, lelaki yang menjadi belahan hidup kami harus berbagi dengan wanita lain.

 

Aku tertunduk memeluk anakku, aku akhirnya tidak bisa menguasai diriku, kami menangis berpelukan. Yaaa Allah cobaan apa lagi ini.

 

“Mas Pram ingin keturunan, mas Pram ingin punya anak, dan itulah sebabnya dia menikah lagi karena selama dua tahun perkawinan kami, aku belum bisa memberinya keturunan.”

Berarti anak ku selama ini telah memendam rasa sakit dan tertekan, sendirian dia merasakan sakit digilir mas Pram, karena wanita itu menuntut kehadiran menantuku dirumah yang juga telah dibeli untuk isteri mudanya. Akh malangnya anakku.

 

Air mataku semakin deras, aku tidak lagi menahan tangisku, aku merasakan betapa sakitnya hati anak ku, aku merasa tidak ikhlas dengan perlakukan menantuku terhadap Sekar.

Bunda, apakah ini salahku karena belum mendapat keturunan, ini bukan kemauanku bunda, ini bukan salah ku, dia tidak bisa menuntut yang tidak bisa aku buat begitu saja. Ini kehendak Allah, Sekar histeris Aku kembali memeluknya. Sabar nak, sabar sayang, bunda mengerti perasaan mu, bunda mengerti sakitmu, hanya kata itu yang bisa ku ucap, aku sendiri hancur, kecewa, sakit hati, aku tidak rela anakku diperlakukan seperti itu, hatiku marah karena alasan menantuku  tidak berdasar. Banyak pasangan-pasangan lain yang sudah menikah lebih dari lima tahun juga belum diberi keturunan, tapi mereka tetap sabar, dan saling setia, tapi kenapa Pram begitu cepat mengambil keputusan menikah hanya karena sudah dua tahun Sekar belum hamil juga.

 

Lama kami terdiam, tak ada lagi kata yang bisa keluar dari hatiku, pikiran ku buntu saat itu, entah bagaimana nasib masakan ku didapur.

 

Hanya belaian sayang pada rambut sekar yang bisa aku lakukan saat itu, akhirnya anakku tertidur, lelap dengan keletihan yang mendalam terpancar dari wajah cantiknya.

Aku bangkit, dan meninggalkan Sekar di sofa ruang tamu,

Kekamar mandi dan berwudhu itu yang aku lakukan, air wudhu itu bercampur air mata. Ya Allah, beri aku dan anakku kekuatan untuk menghadapi cobaan ini, beri aku kekuatan untuk melindungi anakku. Do’a ku dan derai air mata mengalir  dalam duduk sholat ku. Sholat untuk menenangkan diriitu yang selalu aku lakukan disaat aku sedang membutuhkan Sang Khalik. Kapanpun aku bersholat hanya ingin mengadu dan memohon pertolongan agar dibukakan jalan untuk menyelesaikan masalah dalam hidupku.

 

Hari itu Sekar tidak mau pulang kerumahnya, karena dia malas sendirian dirumah, Mas Pram pergi kerumah isterinya. Menantuku itu sudah minta pengertian anakku untuk bisa membagi waktu nya antara Sekar dan Isteri mudanya. Walau Sekar tidak pernah mengizinkan pernikahan itu, walau sekar tidak pernah mau berbagi waktu tapi Pram tetap menjalankannya tanpa memperdulikan lagi perasaan anakku.

 

Sebagai bundanya aku tetap meminta Sekar untuk pulang kerumahnya, karena tidak baik isteri yang meninggalkan rumah tanpa izin suami, sekalipun itu kerumah orang tuanya. Tapi Sekar bersikeras untuk tetap tinggal, bahkan dia sempat marah ketika aku terus menyuruhnya pulang. “Bunda udah gak mau terima aku dirumah ini ya” begitu katanya Akh sensitive sekali saat ini perasaan anakku.   Tidak sayang, bukan begitu, bunda hanya takut nanti suamimu marah.

 

‘Biar aja , aku ingin membuat dia marah dan menceraikan aku.

Mas Pram bilang, bahwa dia tidak akan pernah menceraikan aku sampai kapanpun kecuali mati, dia bilang dia sayang sama aku, dia bilang dia tidak bisa hidup tanpa aku, dia bilang dia bisa menghidupi dua isteri dengan kehidupan yang cukup, dia bilang aku lah yang akan dinomor satukan, tapi mana buktinya bahkan waktunya bisa lebih lama disana dari waktu yang diberikan untukku, aku harus selalu mengalah, karena alasan harus antar isterinya ke dokterlah, isterinya lagi pusinglah, isterinya takut ditinggal sendirianlah, tanpa memperdulikan perasaan aku bunda, jadi sekarang aku sudah bulat untuk kembali kerumah ini, aku tidak perduli lagi dengan rumah besarku, aku tidak perduli lagi dengan mobil yang parkir digarasi rumahku, aku ingin kembali kesini bunda, aku ingin menjadi bagian dari rumah ini lagi, aku sudah tidak kuat bunda.

Ucapan Sekar mengalir tanpa bisa dihentikan, aku hanya mendengar dan mendengar jerit hati anakku tercinta.

 

Ternyata malam itu benar Pram tidak bisa pulang kerumah, dan dia menelpon Sekar melalui telpon genggamnya, aku dirumah bunda, Sekar menjawab, tidak aku akan tidur dirumah bunda, lanjutnya,  nggak, nggak, nggak aku nggak mau pulang, aku mau tidur dirumah bunda telpon genggamnya langsung dilipat.

Mas Pram marah karena aku tidak mau pulang, tapi biarlah itu memang mau ku.

Bunda lagi Sekar berkata, aku ingin Mas Pram merasakan kemarahan ku, aku ingin mas Pram merasa kehilangan aku. Aku ingin mas Pram kembali perduli padaku.

 

Akhirnya malam itu untuk pertama kalinya setelah dua tahun aku kembali tidur dengan memeluk gadis kecilku yang dulu. Sekar tidur lelap dalam dekapan ku.

 

Benar saja…pagi itu disaat aku akan berangkat kerja, Pram datang dengan muka agak sedikit marah

Assalamu’alaikum Bunda…. Pram langsung mencium tanganku…., akhirnya aku memutuskan menelpon Boss ku dan bagian personalia untuk izin cuti satu hari tidak masuk kerja.

 

Aku kembali masuk kedalam rumah diikuti oleh Pram. Sekar masih tidur lelap dikamarku, karena aku tidak tega membangunkannya setelah sholat subuh tadi dia kembali ketempat tidur untuk melanjutkan tidurnya.

 

Aku langsung kedapur untuk membuatkan Pram segelas t eh, padahal itu juga cara aku menghindar untuk langsung duduk bersama menantuku yang telah menyakiti anakku.

Setelah t eh ku hidangkan, aku kembali kekamar untuk ganti baju kerja ku, dan aku membangunkan Sekar.

 

Bunda….. Pram mengikuti aku ketika aku kembali membuat minum untuk ku sendiri, aku diam…., Bunda … kembali Pram memanggil aku….,  aku minta maaf, aku minta maaf …. Sekarang Bunda sudah tau semuanya tentang aku…., aku terpaksa bunda, aku terpaksa karena Bapak meminta ku untuk menikah lagi dan secepatnya memberi cucu buat beliau… begitu perkataan menantuku, dan rasanya bumi yang kupijak seakan ingin membawaku masuk kedalamnya…., Bapak nya…. Bapak nya… yang meminta dia untuk menikah lagi. Akh teganya orang tua itu menyakiti anakku, teganya orang tua itu melukai hidupku, teganya orang tua itu merampas kebahaagiaan anakku….Apakah Orang tua itu tidak punya hati, bagaimana perasaannya kalau anak perempuannya juga diperlakukan seperti itu  

Dan sekarang Tini sudah hamil jalan 4 bulan lanjut Pram oh jadi Tini nama “madu”nya anakku.

Lidah ku kelu, hatiku beku, pikiranku buntu. Apalagi sekarang yang harus aku pertahankan buat anakku. Apalagi yang harus aku lakukan buat menyembuhkan luka anakku. Disaat aku diam Sekar keluar dari kamar dengan wajah lebih segar

Dia langsung mencium tangan suaminya, dan duduk disampingku, Pram menatap wajah anakku dengan penuh sayang. Oh ternyata masih banyak sayang itu untuk anakku,

Kami bertiga berdiam untuk sesaat, sampai Guruh anak lelakiku pamit untuk berangkat sekolah… akh sudah jam 07.00 pagi rupanya.

Akhirnya rumah pun kembali sepi dengan diamanya kami tanpa sepatah katapun, padahal hatiku masih sibuk berdo’a dan meminta kepada Rabb ku, agar aku diberi kekuatan untuk membela anakku.

 

Keheningan itu pecah dengan suara Pram, yang mengajak anakku pulang.

Yang, yuk kita pulang, aku sengaja datang untuk menjemputmu yuk kita pulang, kasian bunda tidak jadi berangkat kerja karena kita, Sekar tetap diam, bahkan kali ini dia lebih mendekat kebadan ku, seolah-olah mengatakan bunda aku tidak ingin pulang bersamanya.

Tapi sebagai seorang Ibu aku tetap meminta Sekar untuk mengikuti kata suaminya….

“Pulang lah nak, suami mu sudah menjemput kamu tuh, mas mu udah kangen tuh candaku,

Sekar semakin kaku…tak bergeming, akh ternyata luka hati anakku sudah semakin parah. Ayo nak ayo sayang sekali lagi aku mengingatkannya.

 

Aku tidak mau pulang Bunda. Kalau bunda tidak mengizinkan aku tinggal disini, aku akan pergi, dan aku tidak akan kembali kerumah bersama mas Pram begitu teriak anakku sambil berdiri dan menangis.

Pram datang menghampiri, tapi ditepisnya, akhirnya kembali aku memeluknya dan dia terkulai tak berdaya dalam pelukanku  bundanya.

 

Pembicaraan akhirnya berlanjut, antara Sekar dan Pram, mereka bersitegang untuk masing-masing mempertahankan alasan-alasan mereka, aku diam bagai hakim yang mendengarkan pembelaan-pembelaan yang terjadi diruang sidang.

Sampai satu titik terdengar suara Pram  yang emosional, jadi sekarang mau kamu apa hah ?

“Aku minta diceraikan jawab anakku tegas dan pasti.

“Aku mau mas mengurus perceraian kita, aku mau mas merelakan aku kembali kerumah ini, aku mau mas melupakan aku dengan menjatuhkan talak kepada ku. Begitu yakinnya pinta anakku kepada suaminya.

“Aku tidak akan pernah mau menceraikan kamu, kamu tau itu Sekar baru kali ini aku mendengar menantuku kembali memanggil nama anakku, setelah sekian taun berganti dengan “Yang”, sekali lagi aku tegaskan Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, kalau begitu aku yang akan menceraikan kamu teriak Sekar. Aku yang akan menggugat kamu, aku yang akan mengurus perceraian kita ke KUA.

 

Maaf mas, aku sudah mencoba menjalani hidup dengan membagi suaminya kepada wanita lain, aku sudah mencoba berpikiran positif tentang perkawinanmu dengan wanita itu, aku sudah berusaha bertahan sendiri, tanpa seorang pun tau termasuk bunda ku. Tapi ternyata aku tidak kuat, aku tidak tahan, aku bukan seperti perempuan zaman dulu yang bisa menerima dengan ikhlas suaminya punya isteri lagi, aku bukan mereka, aku tidak bisa mas, aku sudah berusaha selama tujuh bulan bertahan hidup berbagi, tapi ternyat aku tidak bisa, jadi sebelum aku mati karena sakit hati, tolong, tolong, tolong, ceraikan aku, dan hiduplah dengan isteri barumu, yang jelas-jelas dia sudah mengandung anak mu, hiduplah berbahagia dengan dia, binalah keluargamu yang baru,

Akh anakku dewasa sekali engkau nak bunda tidak menyangka kamu bisa setegar itu batinku.

Menantuku terdiam, mulutnya komat-kamit, entah do’a apa yang sedang dibacanya, matanya terpejam dan wajahnya memerah entah sedih atau karena marah, aku hanya terdiam tanpa sepatah katapun, hatiku melarang aku untuk angkat bicara. Aku diam, diam, dan diam. Akhirnya Pram memecah keheningan itu

Yang, kalau aku boleh jujur, kamulah orang yang paling aku perlukan dalam hidupku, kamulah wanita yang menjadi tantangan dalam hidupku untuk selalu berjuang dan berjuang untuk kebahagiaan kamu. Apa jadinya hidupku tanpa kamu Sekar, lanjut Pram, apa jadinya hidupku setelah kamu pergi dari kehidupanku,

“Yang pasti kau akan lebih bahagia mas, karena kau akan mempunyai anak” dingin jawaban anakku.

“Dan kalau mas benar-benar sayang sama aku, kalau mas benar-benar ingin melihat aku bahagia tolong ceraikan aku, dan rumah tangga kita cukup sampai disini, biarkan aku menjalani hidupku sendiri bersama keluargaku disini.

“Bagaimana dengan rumah kita” tanya Pram.

“Aku tidak akan mengusiknya, ambillah kembali, itu bukan hak ku, jawab Sekar akh anakku, sampai seperti itu hancurnya perasaan dan hatinya, sampai dia tak ingin memiliki rumah besar itu.

 

Pram pulang sendiri tanpa anakku,

Sekar, tak baik seorang isteri meninggalkan rumah kataku setelah kepergian Pram.

“Kamu pulang dulu lah nak,paling tidak kamu harus kembali mengambil pakaian-pakaianmu, aku sudah membawanya Bunda, masih kutinggal didalam mobil. Aku hanya membawa baju-baju dan keperluanku sehari-hari. Akh ternyata anakku memang sudah mempersiapkan kepergiannya kembali kerumah ini.

Bagaimana dengan barang-barang milikmu yang lain, kataku,

Tidak Bunda, itu bukan punyaku, itu milik mas Pram biarlah dia ambil semua yang ada dalam rumah itu, aku hanya membawa keperluanku dan mobil itu, Sekar menunjuk mobil yang selalu dia kendarai kemanapun dia pergi.

 

Tiap hari Pram datang, tanpa henti untuk membujuk Sekar kembali kepadanya dan pulang, tapi Sekar tetap bersikeras dengan kemauannya BERCERAI.

Sekar tetap bertahan, sampai pernah Pram marah kepada ku, karena Pram berpikir aku mendukung perceraian mereka. Jujur dalam hati aku mendukung anakku,  karena sekali anakku mengiyakan permintaan Pram, berarti selamanya dia akan berbagi, sedangkan prinsip hidupku adalah Satu suami dengan satu isteri, itupula sebabnya aku bercerai dengan ayah Sekar, karena aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain.

 

Satu bulan sudah Sekar dirumahku, Pram tidak lagi datang setiap hari, karena dia juga harus kembali keisteri mudanya. Tapi anakku tegar, tekadnya sudah bulat untuk berpisah dari Pram.

Pagi itu Pram datang, disambut dengan wajah yang cerah oleh Sekar. Aku berpikir akh pasti anakku sudah berubah pikira, ternyata dengan bujuk rayunya, Sekar meminta mereka untuk mengurus perceraian secepatnya.

Dengan wajah sedih Pram bicara padaku. Bunda, aku sudah berusaha untuk mempertahankan Sekar untuk tetap menjadi isteriku, aku berusaha untuk minta Sekar kembali padaku, tapi Sekar lebih memilih bercerai.

Yaa, kamu harus bisa menerima kenyataan ini Pram…, kamu harus ikhlas untuk melepas Sekar, sebentar lagi kamu akan punya anak dari isteri mu yang lain.

Apapun keputusan yang Sekar ambil, bunda akan selalu mendukungnya, dan melindunginya.

Setelah lebih dari satu bulan Pram berusaha mempertahankan perkawinannya dengan Sekar, dan tak berhasil, akhirnya dia  dengan berat hati mengabulkan permintaan anakku untuk bercerai.

 

Orang tua Pram datang kepada ku, dengan penyesalan yang entah tulus atau tidak aku sudah tidak perduli, karena konon kabar burung yang kudengar, anakku tidak pernah disukai oleh mertuanya, dengan alasan tidak bisa memberi keturunan, aku juga dengar kabar yang lebih perih, besan ku itu pernah mengatakan bahwa mantunya (anakku) gabuk, tak bisa bertelur dan menetas,  tapi waktu itu aku tak perduli, dan sekarangpun aku tak perduli.

 

Dengan membayar uang yang lebih kepada Pengadilan sidang perceraian itupun digelar, tanpa dipersulit, tanpa bertele-tele, Hakim mengabulkan permintaan jatuh talak dari Pram kepada Sekar.

 

Ternyata perjalanan hidup manusia tidak ada yang tau, dan benar adanya Allah lah yang menentukan Hidup, Mati, Jodoh dan Rezeki seseorang, hari ini kita merasakan bahagia, tapi siapa yang akan tau besok seperti apa.

 

Sekarang, aku kembali hidup bersama anakku, utuh, Sekar dan Guruh, hanya predikat Sekar sekarang sudah berubah menjadi “Janda”, sama seperti predikat yang disandang bundanya.

 

 

 

Bekasi

Kota tempat aku menjalani kehidupan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help