Muli's Site

Muli's posts with tag: renungan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag renungan
ReviewReviewReviewReviewReviewDimanakah Allah beradaAug 9, '07 2:42 AM
for everyone
Category:Other
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sobat yang dirahmati Allah SWT.

Ini ada bacaan, pelajaran dan pemahaman yang sangat luar biasa (untuk aku) tentang "Dimanakah Allah berada". Aku dapat dari milis dan aku simpan buat aku pahami.

Siapa tau diantara sahabat ingin juga membacanya, dipersilahkan tapi lumayan panjang.

Semoga bermanfaat untuk lebih menambah keimanan kita kepada Allah SWT.


DIMANAKAH ALLAH BERADA ?

Ya, dimanakah Tuhan berada? Di langit, di Bumi, Di surga, atau kah di hati setiap manusia? Kapan dan dimanakah kita bisa bertemu dan berinteraksi denganNya? Ini sungguh sebuah pertanyaan yang mendasar.

Setiap hamba selalu ingin bisa berinteraksi dengan Tuhannya. Karena pertemuan itu akan memberikan kekuatan dan keyakinan lebih jauh, bahwa Tuhan yang disembahnya itu memang ada. Bahwa Tuhan yang dijadikan tempat bergantung itu memang bisa memberikan pertolongan ketika dibutuhkan. Bahwa Tuhan yang dipuja-pujanya itu bisa memberikan ketentraman dan kebahagiaan saat ia gelisah menghadapi berbagai persoalan kehidupannya.

Ada dua hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu sebelum kita membahas keberadaan Allah. Yang pertama: apakah Allah menempati ruang, sehingga bisa disebutkan lokasi keberadaanNya. Dan yang kedua: Bagaimana kita bisa berinteraksi dengan Dzat Yang Maha Sempurna itu.

Pertanyaan tentang dimana Allah memang mengarahkan kita untuk berpikir bahwa Allah itu berada di dalam ruang alam semesta. Sebuah kesan spontan yang muncul, ketika kita ditodong dengan pertanyaan : 'Dimana'

Pertanyaan 'Dimana' sebenarnya hanya cocok diajukan kepada sesuatu yang berpindah-pindah tempat. Sekali waktu ada di sana, sekali waktu ada di sini. Di saat tertentu berada di atas, di waktu yang lain berada di bawah. Kadang di kanan, kadang di kiri, muka belakang. Dan seterusnya. Maka, lantas kita menanyakan: di mana dia? Dan jawabnya bisa berubah-ubah: di sana, di sini, di situ, dan seterusnya.

Sekarang bayangkan ada 'Sesuatu' yang Dia tidak berubah tempat dan sekaligus ada di mana-mana. Kemana pun kita menghadap di situ ada Dia! Dimana pun kita berada, di situ ada Dia! Ke atas, ke bawah, kanan, kiri, depan, belakang, di langit dan di bumi, selalu ada Dia dalam waktu yang bersamaan. Saat itu juga!

Bagaimana kita bisa bertanya: dimanakah Dia? Lho, apakah tidak boleh bertanya demikian untuk menegaskan keberadaanNya? Oh, tentu saja boleh. Tetapi pertanyaan itu adalah pertanyaan yang 'keliru alamat' dan ‘tidak bermakna’. Karena kita sedang bertanya tentang 'Sesuatu' yang 'posisiNya' tidak pernah berubah. Dulu, sekarang, dan nanti, ya tetap saja ‘posisiNya’. Untuk apa kita bertanya Dia ada dimana?

Apalagi, jika 'Sesuatu' itu tidak menempati 'tempat’ melainkan, justru 'ditempati' oleh tempat alias ruang. Artinya seluruh tempat dan ruang itu justru berada di dalam Dzat itu. Kenapa demikian? Karena Sesuatu itu adalah Dzat yang Maha Besar sehingga 'ruang' dan 'tempat' tidak cukup 'mewadahi' DzatNya. Justru 'Ruang' dan 'tempat' itulah yang berada di dalam DzatNya! Itulah Dzat Allah Azza wajalla, Tuhan yang Maha Agung.

Ruang alam semesta ini 'terlalu kecil' untuk mewadahi eksistensi Dzat Allah Yang Maha Besar! Padahal, alam semesta ini luar biasa besarnya. Yang ilmu astronomi mutakhir pun tidak bisa mengetahui dimana batasnya.

Itulah konsep ‘Allahu Akbar’ di dalam Al Qur’an yang mengajarkan kepada kita, bahwa tidak ada yang lebih besar dari pada Dzat Allah. Sehingga kalau kita membayangkan Allah berada di dalam ruang alam semesta, maka berarti alam semesta ini jauh lebih besar dari Dzat Allah. Ini kekeliruan yang sangat mendasar!

Ada memang, suatu kitab suci agama lain yang menginformasikan bahwa 'Ruh Tuhan' melayang-layang di angkasa sebelum menciptakan benda-benda langit seperti galaksi, bintang, dan planet-planet. Saya kira ini sebuah kekeliruan yang sangat fatal, karena mempersepsi Tuhan demikian kecilnya. Jauh lebih kecil dari ruang alam semesta.

Yang benar, Tuhan Allah adalah Dzat yang Maha Besar. Paling Besar. DzatNya tidak berada di dalam jagad raya semesta, melainkan jagad raya itulah yang berada di dalam Kebesaran Dzat Allah. Bahkan, jagad raya yang berisi triliunan benda langit itu, sebenarnya hanyalah setitik debu dari kebesaran Allah, Sang Maha Besar dan Maha Perkasa!

Maka, ketika kita bertanya: Dimanakah Dia berada? Kita bakal kebingungan menjawabnya. Bukan karena kita tidak tahu dimana Allah berada, melainkan karena kita sangat tahu bahwa Allah Demikian Besarnya, sehingga kemana pun kita menunjuk dan menghadapkan wajah kita, di situlah Allah berada! Ini persis dengan statement Allah di dalam Al Qur’an, berikut ini.

QS. Al Baqarah (2) : 115
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

Setidak-tidaknya, ada dua informasi yang terkandung di dalamnya ayat tersebut. Yang pertama, Allah mengatakan bahwa Allah meliputi Timur dan Barat, sehingga kemana pun kita menghadap, kita sedang menghadapi 'Wajah' Allah.

Hal ini menunjukkan betapa Luas dan Besarnya Tuhan yang menamakan Dirinya Allah itu. Apalagi, di bagian akhir ayat itu Allah menegaskan lagi dengan kalimat innallaha waasi’un 'aliim Sesungguhnya DIA Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

Yang kedua, ayat tersebut juga menginformasikan tentang sifat Dzat Allah. Maksud saya, selama ini ada sementara kalangan yang sering mengemukakan pendapat bahwa kita tidak boleh dan tidak bisa memikirkan tentang Allah. Yang boleh adalah sekadar berpikir tentang ciptaanNya.

Tapi, kalau kita mau mencermati berbagai ayat di dalam Al Qur’an, Allah justru banyak memperkenalkan DiriNya kepada kita secara langsung maupun tidak langsung. Ratusan ayat yang memberikan informasi tentang Dzat Allah secara langsung. Dan ratusan lainnya lagi memberikan informasi tidak langsung lewat tanda-tanda, CiptaanNya, di sekitar kita. Maka, bagi saya, justru itu mendorong agar kita memahami apa dan bagaimanakah sebenarnya Allah Tuhan kita. Lebih jauh kita akan terus membahas di bagian-bagian berikutnya secara berkelanjutan.

Tapi di bagian ini, saya ingin memberikan kesimpulan sementara agar pembahasan kita bisa menemukan pijakan yang sama. Bahwa, Allah adalah Dzat yang Luar Biasa Besar Tidak Terbatas, sehingga alam semesta pun tidak mampu mewadahi EksistensiNya.

Karena itu, tidak perlu bingung-bingung mencari Allah berada di mana, karena kemana pun kita menghadapkan wajah, disanalah kita sedang berhadapan dengan ‘Wajah’ Allah...


ALLAH MELIPUTI SEGALANYA

Kalau begitu bagaimanakah posisi antara Allah dan makhlukNya? Pertanyaan ini muncul sebagai konsekuensi dari statement sebelumnya bahwa Allah adalah Dzat yang begitu besarnya, sehingga seluruh ruang di alam semesta ini ditempatiNya. Bahkan masih lebih besar lagi, sehingga kita menyebutnya: justru ruang itulah yang berada di dalam Allah.

Lho, kalau begitu apakah Allah meliputi seluruh langit dan bumi? Padahal langit dan bumi berisi seluruh makhlukNya? Jadi, Allah meliputi segala makhlukNya, tidak ada yang terkecuali?

Ya, begitulah konsekuensinya! kalau begitu, tidak ada makhluk yang berada di luar Dzat Allah? Ya, begitulah keadaanNya! Oh, berarti kita semua berada di dalam Allah?! Ya, begitulah jadinya! Berarti kita menyatu di dalam DzatNya? Mau nggak mau kita jadi berkesimpulan begitu..!!

Tanya jawab di atas bisa 'bikin pusing' kawan-kawan kita yang terlanjur menerima doktrin bahwa Allah dan makhlukNya adalah terpisah. Bahkan beberapa kali saya sempat berdiskusi tentang kesimpulan di atas, dalam berbagai kesempatan. Tapi begitulah, tidak bisa tidak, kalau kita menggunakan akal kita secara logis, yang terjadi adalah kesimpulan tersebut. Bahwa makhluk memang berada di dalam Allah. Dan berarti: seluruh makhlukNya menyatu di dalamNya.

Lho, itu kan pendekatan logika. Bagaimana halnya kalau kita melakukan pendekatan lewat informasi Al Qur’an? Kesimpulannya berbeda ataukah sama?

Ternyata, sama saja! Berbagai ayat yang saya eksplorasi, menggiring kita kepada kefahaman tersebut! Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini.

QS. An Nisaa' (4) : 126
Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Ayat di atas sangat gamblang menggambarkan kepada kita bahwa seluruh langit dan Bumi adalah milikNya. Semata-mata untukNya. Dan kemudian Dia tegaskan bahwa segala yang ada di dalamnya diliputiNya. Tidak ada yang tidak diliputinya, karena kalimat yang digunakan adalah: bikulli syai-in mukhith (tiap-tiap sesuatu diliputiNya) .

Kalau Allah mengatakan bahwa Dia meliputi segala sesuatu, maka pertanyaan berikutnya adalah: Segala sesuatu yang diliputiNya itu ada di dalam yang meliputi atau di luar yang meliputi?

Jawabannya cuma satu: ya, pasti berada di dalam yang meliputi. Kalau masih ada sesuatu yang berada di luarnya, itu artinya Dia tidak Maha Meliputi segala sesuatu. Tentu, kita tidak boleh mengartikan ada sesuatu di luar Allah, karena itu bertentangan dengan sifat Allah yang Maha meliputi.

Lantas ada yang mengejar dengan pertanyaan begini: Lho, yang meliputi itu DzatNya ataukah ilmuNya?

Ada dua jawaban yang ingin saya berikan. Pertama, kalimat di ayat tersebut sama sekali tidak menyebut kata ‘ilmu’. Kata-kata yang digunakan di situ adalah 'wa kanallahu bikulli syai-in mukhith' (dan adalah Allah meliputi segala sesuatu).

Bahwa yang meliputi itu adalah DzatNya. Bukan sekadar IlmuNya. Sebab, kalau Allah ingin menyampaikan bahwa IlmuNya meliputi segala sesuatu, ayatNya akan menyebutkan kata ilmu, sebagaimana dalam ayat berikut ini.

QS. Thaahaa (20) : 98
Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan Nya meliputi segala sesuatu".

QS. Ath Thalaq (65) : 12
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu

Jadi, masalahnya terletak pada 'keberanian' penafsir untuk memahami apakah yang dimaksud dalam ayat tersebut 'ilmu ataukah Dzat. Dalam beberapa terjemahan pada umumnya, ada yang menambahkan penjelasan dalam kurung, bahwa itu ilmu. Tapi di beberapa terjemahan lainnya tidak disebutkan ilmu. Langsung disebut dengan terjemahan : ‘dan adalah Allah meliputi. . .’

Di ayat yang lain, Allah menjelaskan bahwa yang meliputi makhlukNya itu bukan hanya ilmuNya, melainkan juga RahmatNya. Dan, itu diungkapkan Allah secara eksplisit dalam berbagai ayat. Baik secara bersama-sama maupun terpisah. Di antaranya adalah berikut ini.

QS. Al Mukmin (40) : 7
(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala,


QS. Al A'raaf (7) : 156
Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: siksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami"

QS. Al Baqarah (2) : 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) ; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki- Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Bahkan, dalam 'ayat Kursi' di atas, Allah juga mengatakan bahwa KursiNya meliputi langit dan bumi. Ada yang memaknai Kursi dengan Singgasana. Tapi ada juga yang lebih jauh memaknai dengan 'Kekuasaan'. sebab Singgasana adalah lambang Kekuasaan dalam Kerajaan. Dalam hal ini, terkait dengan 'Kerajaan' Allah yang meliputi Langit dan Bumi, tertuang dalam ayat-ayat berikut.

QS. Al Mulk (67) : 1
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

QS. Al Baqarah (2) : 107
Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.

Jadi, kata meliputi tidak selalu hanya bermakna ilmu Allah melainkan sifat-sifat Allah lainnya. Di ayat yang berbeda Allah juga menegaskan bahwa Allah meliputi berbagai perbuatan manusia.

QS. Al Anfaal (8) : 47
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

QS. Huud (11) : 92
Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan."

Bahkan ada ayat yang secara lebih tegas menyebutkan bahwa Allah meliputi seluruh manusia. Di antaranya adalah ayat berikut ini.

QS. Al Israa' (17) : 60
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.

Karena itu, sebenarnya tidak ada keberatan apa pun untuk mengatakan bahwa Dzat Allah memang meliputi segala sesuatu. Sekali lagi saya kutipkan ayat berbeda, untuk maksud yang sama.

QS. Fushilat (41) : 54
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Yang kedua, selain makna 'meliputi' dalam arti DzatNya, saya juga ingin mengkritisi pendapat bahwa yang dimaksudkan 'meliputi' itu hanyalah IlmuNya. Seakan-akan bukan Dzat dan Sifat-Sifat Allah lainnya.

Saya kira, kita sependapat bahwa Allah itu 'Tunggal'. Tidak bisa dibagi-bagi. DzatNya tidak tersusun dari bagian-bagian. Sayangnya, kebanyakan kita justru membagi-bagi Dzat Allah itu ke dalam bagian-bagian penyusunNya.

Kita membedakan-bedakan antara Sifat-Sifat Allah, dengan Dzat Allah, dengan Ilmu Allah, dengan Kekuasaan Allah, dengan Kehendak Allah, dengan Kasih Sayang Allah, dan seterusnya. Seakan-akan, kalau kita berbicara Dzat Allah, itu adalah bagian yang terpisah dari Sifat-Sifat Allah lainnya.

Karena itu, lantas ada pendapat, bahwa yang meliputi itu sebenarnya adalah 'Ilmu Allah', sedangkan DzatNya tidak meliputi. Lho, memangnya, Dzat Allah itu terpisah dari IlmuNya?!! Apa layak kita berpendapat seperti itu?!!

Bagi saya, Dzat dan Sifat-Sifat Allah itu Tunggal. Tidak ada bedanya. Kalau Allah mengatakan bahwa IlmuNya meliputi segala sesuatu, maka pada saat yang bersamaan KehendakNya juga meliputi segala sesuatu, Kasih SayangNya juga meliputi segala sesuatu, KekuasaanNya pun meliputi segala sesuatu, dan DzatNya pasti meliputi segala sesuatu. Karena Allah adalah Dzat Tunggal Mutlak! Jangan dibagi-bagi, 'yang ini' meliputi, sedangkan 'yang itu' tidak meliputi! Ini berbahaya, karena kita telah membagi Allah ke dalam sifat-sifat yang terpecah-belah.

Bahkan, yang diliputi oleh Allah itu bukan hanya yang baik-baik saja. Yang 'buruk' pun diliputiNya. Coba perhatikan ayat-ayat berikut ini. Dengan sangat jelas dan eksplisit Allah mengatakan wallaahu mukhiithun bil kaafirin - ‘dan Allah meliputi orang-orang yang kafir’'

QS. Al Baqarah (2) : 19
Atau seperti hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

QS. Maryam (19) : 83
Tidakkah kamu lihat, bahwasannya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma'siat dengan sungguh-sungguh?

Dua ayat di atas menggiring pemikiran kita, bahwa Allah meliputi orang-orang kafir. Sedangkan orang kafir itu dipimpin oleh setan. Artinya, Dzat Allah sebenarnya meliputi segala yang dikerjakan oleh orang-orang kafir bersama setan itu.

Lho, kalau Allah meliputi setan-setan dan segala perbuatannya, apakah Allah meliputi segala keburukan dan kejahatan? Begitulah konsekuensi logisnya!

Sebab kalau tidak demikian, apakah Anda akan mengatakan bahwa Allah 'tidak meliputi' perbuatan-perbuatan buruk dan jahat? Allah tidak meliputi setan? Karena, setan memiliki sifat-sifat yang berseberangan dengan Allah? Lantas, Anda ingin mengatakan setan adalah 'lawan Allah'?

Dan konsekuensi berikutnya, Anda akan mengatakan bahwa Allah ‘tidak berkuasa’ terhadap segala perbuatan jahat, kotor dan buruk? Karena kontrol dan kendalinya ada di tangan 'lawanNya', yaitu setan? Saya kira Anda berada di dalam jalur logika yang salah, kalau membangun persepsi demikian.

Konsekuensi dari kesimpulan itu akan bertabrakan dengan berbagai ayat di dalam Al Qur’an sendiri. Karena, lantas Allah tidak menjadi Tuhan dengan segala KeperkasaanNya yang Mutlak. Menjadi Tuhan yang memiliki keterbatasan. Hanya 'meliputi' yang baik-baik saja. 'Tidak meliputi' yang jelek dan buruk. Dan akhirnya, muncul konsekuensi bahwa Allah tidak meliputi 'segala sesuatu' lagi? Apakah kita tidak salah arah dalam memahami Keagungan Allah?!

Bukankah Allah dengan sangat gamblang telah mengatakan kepada kita: ‘innahu bikulli syai in mukhith - sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu' Termasuk segala kebaikan dan kejahatan.

Memang, ada beberapa kawan yang merasa 'tidak nyaman' dengan pemahaman ini. Seakan-akan mencampur adukkan yang baik dan yang buruk dalam Dzat Ketuhanan. Ah masa iya, Allah meliputi yang buruk, kotor dan jahat. Bukankah Allah Maha Suci dari segala sifat itu?

Sekarang saya bertanya kepada Anda: 'Sebenarnya siapakah yang bisa dinilai baik dan buruk itu? Apakah Allah bisa dikenai 'kebaikan' dan 'keburukan'? Apakah kita bisa mengatakan : ini baik untuk Allah, sedangkan yang ini buruk untuk Allah. Ini bermanfaat buat Allah, dan yang ini memberikan mudharat padaNya?

Apakah ada yang bisa memberikan manfaat dan mudharat kepadaNya? Jawabnya, pasti tidak! Justru dialah sumber manfaat dan mudharat itu. Dialah sumber segala kebaikan dan keburukan. Karena sesungguhnya kebaikan dan keburukan itu tidak berdampak pada DzatNya, melainkan berdampak pada makhlukNya.

Yang dinamakan baik adalah sesuatu yang memberikan manfaat kepada kita. Jika sesuatu itu memberikan kerugian dan mudharat, maka kita menyebutnya itu sebagai keburukan atau kejahatan. Bagi Allah kedua 'penilaian' itu tidak ada dampaknya. Tidak ada yang bisa mem'baik'i Allah sebagaimana juga tidak ada yang bisa men’jahat’i Allah.

Karena itu, Keagungan dan Kesucian Allah tidak terganggu sedikit pun oleh pernyataan bahwa Dia adalah sumber segala hal, termasuk yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat maupun yang merugikan. Sebab, semua itu memang dalam Kekuasaan dan KehendakNya. Allah bisa memberikan manfaat dan mudharat, kesenangan dan musibah, kapan saja Dia Kehendaki. Dia mengontrol segalanya, berdasarkan Sifat Rahman dan RahimNya.

Contoh yang lebih konkret, ada yang bertanya begini: apakah Allah meliputi dan berada di tempat-tempat kotor seperti WC, sampah, saluran pembuangan, dan lain sebagainya?

Jawaban saya sangat jelas: ya, Allah berada dan meliputi seluruh tempat-tempat yang kita anggap kotor itu.

Ada 3 hal yang terkandung di dalam jawaban saya itu. Pertama, Allah pasti berada dan meliputi semua tempat itu, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Meliputi segala sesuatu. Jika tidak, maka sifat itu tidak layak kita kenakan pada dzat yang tidak meliputi segala sesuatu.

Kedua, Allah pasti meliputi segala tempat dan benda-benda, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Besar. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang berada di luar KebesaranNya. jika ada sesuatu yang tidak diliputiNya maka ia berarti bukan dzat yang Maha Besar. Karena ada ruang yang lebih besar dari eksistensinya. Maka, itu pastilah bukan Allah.

Yang ketiga, kalau sampai Allah tidak hadir dan tidak meliputi tempat dan benda-benda tersebut, maka seluruh proses di tempat-tempat yang kita angap kotor itu bakal berhenti.

Korban pertamanya adalah manusia. jika Allah tidak hadir dalam proses pembusukan di dalam perut dan pencernaan kita, misalnya, maka kita akan mengalami problem yang sangat serius dengan kesehatan dan lingkungan hidup kita.

Bayangkan, makanan yang kita makan tidak mengalami proses pencernaan, karena DzatNya tidak hadir di seluruh proses tersebut. Kita tidak bisa buang kotoran, karena tidak ada lagi 'Kekuasaan' yang mengendalikannya. Bahkan, seluruh sampah, air limbah dan kotoran juga tidak bisa membusuk dan terurai, karena Allah tidak mengurusinya. Maka, sungguh dunia kita bakal mengerikan karena penuh dengan kotoran dan sampah.

Begitu dramatisnya kerusakan dalam diri dan lingkungan kita bakal terjadi, ketika Allah tidak ‘meliputi’ proses-proses tersebut. Seluruh kejadian bakal terhenti, dan kemudian mengalami kehancuran.

Justru di hal-hal yang kita sebut 'kotor' itu Allah menampakkan KekuasaanNya dengan penuh Kasih Sayang. Kalau Allah merasa 'jijik' dengan yang kita anggap kotor itu, atau 'Maha SuciNya' digambarkan dengan meninggalkan semua 'kekotoran' tersebut, sungguh bukan Rahmat yang bakal kita terima, tetapi bencana yang tiada terkira!

Padahal apa yang kita anggap kotor itu sebenarnya adalah zat yang bisa sangat berguna bagi proses-proses kehidupan lainnya. Bukankah kita bisa membuat pupuk yang bermanfaat menyuburkan tanaman dari kotoran binatang, misalnya.

Atau, bau yang menyengat dari tinja dan urine, itu sebenarnya berasal dari kandungan zat kimiawi bernama amoniak, ureum, dan asam belerang. Dan, semua itu adalah zat-zat yang sangat berguna dalam sebuah industri kimia.

Jadi, sebenarnya, apa yang kita sebut kotor dan tidak bermanfaat itu, belum tentu hal yang kotor bagi makhluk lain. Bahkan bisa bermakna sebagai kebutuhan pokok bagi makhluk Allah lainnya. Bukankah semua ciptaan Allah tidak ada yang tidak bermanfaat? Semua pasti ada manfaatnya. Disinilah Allah menunjukkan Kebesaran dan Kasih SayangNya.

Maka, kita harus bijak dan waspada dalam membangun kepahaman terhadap sifat-sifat Allah. Karena Dia sebenarnya merangkum seluruh sifat-sifat ekstrim yang bertolak belakang, secara sekaligus. Bukan hanya salah satu sisi saja.

Dalam hal waktu misalnya, Dia meliputi 'dulu', 'sekarang' dan 'nanti'. Dalam hal ruang, Dia meliputi 'Barat' dan 'Timur'. 'atas' dan 'bawah'. 'kiri' dan 'kanan' 'muka' dan 'belakang' secara bersamaan. Demikian pula dalam hal nilai-nilai etika, Dia sekaligus merangkum 'kebaikan' dan 'keburukan'. Sebab, sekali lagi, semua kontradiksi itu menyatu di dalam Dzat Allah Yang Maha Tunggal.

Sehingga, dalam beberapa ayatNya Allah mengatakan, bahwa sesungguhnya kebaikan dan keburukan itu semuanya berasal dari sisi Allah. Memang ada mekanisme tertentu yang menyebabkan seseorang memperoleh kebaikan atau keburukan. Namun, pada dasarnya semua itu berasal dari Allah.

Begitulah memang logika tauhidnya. Bahwa semua 'keberadaan' ini berasal dari Allah dan bakal kembali kepada Allah. Keburukan bukan berasal dari setan, meskipun setan menjadi penyebabnya. Sebagaimana juga kebaikan. Semuanya berasal dari Allah, meskipun disebabkan oleh perbuatan dan usaha kita.

QS. An Nisaa' (4) : 78
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

QS. Al Baqarah (2) : 156
(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa liaihi raaji’uun (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan bakal kembali kepadaNya)"

Lebih jauh lagi, Allah digambarkan merangkum seluruh titik ekstrim dalam kehidupan manusia. Ruang, Waktu, Materi, Energi, dan Informasi, seluruhnya berada di dalam 'Genggaman'Nya.

QS. Al Hadid (57) : 3
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat di atas adalah informasi universal tentang ke Maha Besar an Allah. Dialah Dzat yang merangkum seluruh kondisi ekstrim yang berlawanan dan kita anggap kontradiktif. Betapa tidak, coba bayangkan. Ia adalah Awal sekaligus Akhir. Ia Zhahir sekaligus Bathin. Ia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Itu menunjukkan bahwa Allah meliputi seluruh dimensi waktu yang mengikat kehidupan makhlukNya. Ia juga Zhahir dan Batin, yang menunjukkan bahwa seluruh materi yang tampak dan energi yang tidak tampak, berada di dalam 'genggamanNya' . Dan kemudian, la adalah Dzat Yang Maha Tahu, sebuah gambaran betapa Allah ‘meliputi’ seluruh dimensi Informasi. Tak ada perkecualian.

Dalam ayat yang lain berikut ini, Dia bahkan melengkapi statement itu dengan mengatakan, bahwa dimensi Ruang pun berada di dalam DzatNya. Karena Ia adalah Dzat yang Maha Luas, merangkum seluruh titik ekstrim dalam kehidupan makhlukNya.

QS Al Baqarah (2) : 115
Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.


MENGENAL ALLAH

DIA MEMPERKENALKAN DIRINYA

Setelah melakukan pencarian terhadap eksistensi Allah, marilah kita mulai mengenal Dzat yang Maha Agung dan Maha Suci itu. Tapi, bisakah kita mengenalNya? Dan, Bagaimana pula cara mengenalNya? Bukankah Dia Dzat yang tidak tergambarkan oleh akal manusia?

Sejarah manusia telah menunjukkan bahwa manusia memiliki naluri untuk berusaha mencari dan mengenal Dzat Ketuhanan. Namun kenyataan selalu menunjukkan, upaya itu seringkali tersesat. Bukan ketemu Tuhan Allah, melainkan ketemu dengan Tuhan-Tuhanan.

Kenapa bisa demikian? Sebab, Dzat Tuhan yang Sesungguhnya itu memang jauh di luar perkiraan akal kita. Meskipun, bukan berarti tidak bisa 'didekati' dengan akal manusia.

Karena kenyataan itulah, Allah lantas memperkenalkan DiriNya kepada manusia. Ya, Dia sengaja memperkenalkan Diri, agar manusia mengenalNya. Bukan kenal lewat 'sekadar dugaan-dugaan' saja. Karena dugaan alias persangkaan memang tidak bakal mengantarkan kita kepada kebenaran yang hakiki. Hal ini berulangkali Dia firmankan dalam Al Qur’an al Karim.

QS. Yunus (10) : 66
Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.

QS. Fushshilat (41) : 23
Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

QS. Hujuraat (49) : 12
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Jadi, kunci pengenalan Dzat Allah itu harus berdasar pada informasi yang akurat dan bisa dipercaya. Bukan sekadar dugaan. Lantas, dimanakah informasi akurat itu berada? Tentu saja ada di dalam firman-firmanNya.

Apakah kita tidak bisa menemukan Tuhan Allah lewat pendekatan akal dan sains? Sebenarnya bisa, tapi butuh waktu sangat panjang. Dan tidak semua orang bisa memahamiNya dengan baik. Seringkali, usia manusia bahkan sepanjang peradabannya tidak cukup untuk menemukan Allah. Yang ketemu adalah Tuhan-Tuhanan dzat yang spesifikasinya jauh lebih rendah dari Tuhan Yang Sesungguhnya.

Maka, kita harus membalik model pencarian itu. Bukan dari sains ke Al Qur’an, melainkan dari Al Qur’an ke Sains. Pendekatan Sains tetap diperlukan untuk menguraikan simpul-simpul informasi yang ada di dalam Al Qur’an. Tanpa Sains kita hanya akan memperoleh pokok-pokok informasi tanpa memperoleh kedalaman maknanya. Sekadar pendekatan bahasa, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan penafsir. Pendekatan Sains akan lebih memperkaya makna yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut.

Tapi, tentu saja pemahaman bahasa merupakan kunci utama dalam memahami informasi. Dalam era modern ini metode pemahaman bahasa telah berkembang demikian pesatnya. Sehingga sangat memudahkan kita dalam memahami Al Qur’an.

Dan saya kira, ini memang fasilitas yang diberikan Allah kepada umat manusia di muka Bumi, yang tidak semuanya berbahasa Arab. Allah menjamin, bahwa Al Qur’an ini didesain secara khusus dan mudah untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya untuk orang Arab. Hal itu berulang kali ditegaskan Allah dalam QS. Al Qamar : 17, 22, 32, 40.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Saya selalu menggunakan metode itu untuk memahami dan mengenal Allah. Mengambil informasi dari ayat-ayat Qur'an dan menafsirinya lewat pendekatan Sains dan logika modern.

Apakah memang Allah memberikan banyak informasi tentang diriNya di dalam Al Qur’an? Ya, begitulah. Kata-kata yang paling banyak diulang di dalam Al Qur’an adalah kata ‘Allah’. Tidak kurang dari 3.326 kali. Itu artinya, Dia memang sedang memperkenalkan Diri kepada kita, seluas-luasnya.

Sehingga, kalau kita mau mencermati dan memahami ayat-ayat itu, sebenarnya kita sedang dibimbing olehNya untuk kenal dengan Dzat yang Maha Agung itu. Tapi, sekali lagi, harus diuraikan dengan menggunakan akal dan sains. Sebab bukti-bukti keberadaanNya bukan hanya berada di dalam Al Qur’an melainkan lebih banyak berada di alam sekitar kita.

Al Qur’an bersifat menggiring perhatian kita dengan informasi-informasi pokok, sedangkan penjabarannya ada dalam realitas kehidupan kita. Karena itu, jika kita ingin kenal Allah kita harus banyak-banyak merefleksikan ayat-ayat Qur'an itu dalam kehidupan. Jika tidak, maka yang kita dapatkan hanyalah teorinya saja. Bukan makna yang sesungguhnya.

QS. Yusuf (12) : 105
Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.

Coba perhatikan, ayat di atas dengan sangat jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa tanda-tanda kebesaran Allah itu sebenarnya tersebar di langit dan di Bumi dalam keseharian kita. Sayangnya, kebanyakan kita melewatinya begitu saja. Sehingga, kita tidak menggenal Allah sebagai Tuhan yang sesungguhnya.

Seringkali, kita mengenal Allah hanya sebatas teori. Bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Besar. Tapi, sebenarnya kita tidak merasakan apa-apa tentang Kebesaran Allah itu. Kita juga tahu secara teori, bahwa Allah Maha Mengasihi dan Menyayangi. Namun toh, kita tidak bisa merasakan seberapa besar Kasih Sayang Allah kepada kita.

Sehingga jangan heran kalau Allah mengatakan bahwa kita ini sebenarnya tidak begitu mengenal Allah, bahwa Allah adalah Dzat yang benar-benar Maha Kuat dan Maha Perkasa. Pengenalan kita terhadap Allah hanya di kulit saja. Cuma teori belaka. Tanpa merasakan prakteknya. Atau, kalaupun merasakan, sangatlah sedikit.

QS. Al Hajj (22) : 74
Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benamya. Sesungguh-nya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

QS. Az Zumar (39) : 67
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Ayat yang terakhir itu memberikan gambaran betapa kita tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Persepsi kita perlu dibenahi dan dibangun kembali dengan wawasan yang lebih baik. Di antaranya, kita diperintahkan untuk membandingkan dengan sains dan penemuan-penemuan mutakhir tentang realitas di sekitar kita.

Untuk memperoleh perbandingan yang ekstrim, Allah seringkali menyebut-nyebut langit dan Bumi sebagai bukti-bukti kebesaranNya. Kenapa? Karena dengan memahami langit dan bumi kita menjadi tahu betapa besarnya alam semesta ini. Apalagi Yang Menciptakannya! !

Begitulah. Dengan berusaha memahami ayat-ayat Qur'an dan menyesuaikan pemahamannya dengan realitas di sekitar, maka diharapkan kita akan mengenal Allah dengan lebih baik. Mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya! Semua itu bisa terjadi, karena DIA memang memperkenalkan DiriNya kepada kita...


PERSONIFIKASI SIFAT-SIFAT ALLAH

Begitu besarnya Dzat Allah, sehingga tidak terwadahi oleh pikiran kita! Demikian pula, saking besarnya Dzat Allah, sehingga eksistensiNya tidak bisa dijelaskan oleh bahasa. Tidak ada bahasa yang bisa mewadahi dan menjelaskan tentang keadaan dan sifat-sifat DzatNya.

Karena itu, meskipun Allah sudah mengenalkan DiriNya lewat Al Qur’an, itu belum mentransfer seluruh makna yang terkandung dalam KehendakNya. Makna yang lebih tinggi baru bisa kita rasakan ketika mempraktekkan dan mengonfirmasikannya dalam kehidupan sehari-hari, berupa amalan.

Membaca Al Qur’an adalah menyerap kepahaman dengan menggunakan ungkapan bahasa, lewat pikiran, mata dan telinga. Sedangkan mengamalkan dalam kehidupan adalah menyerap makna dengan menggunakan seluruh potensi kemanusiaan secara utuh. Karena itu, sesungguhnya kita baru akan mengenal Allah dengan lebih baik jika menyerap lewat amalan. Bukan sekadar bahasa dan teori belaka.

Namun demikian, mau tidak mau informasi itu harus dikomunikasikan lewat bahasa. Dan kemudian, Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa untuk memperkenalkan Diri. Tapi, sebenarnya makna yang tersimpan di dalamnya tidak hanya bisa diakses dengan menggunakan bahasa Arab saja. Bahasa apa pun yang dimiliki peradaban manusia bisa digunakan untuk memahami makna itu. Terjemahan adalah salah satu metode untuk menyerap makna yang terkandung di dalam bahasa Al Qur’an.


Makna adalah makna. Bahasa sekadar media untuk menyampaikan makna. Karena itu ungkapan-ungkapan yang ada di dalamnya tidaklah bersifat mutlak. Juga tidak bisa mewadahi makna yang sesungguhnya.

Termasuk ketika Allah memperkenalkan DiriNya dengan bahasa manusia, sebenarnya ungkapan-ungkapan itu tidak pernah bisa mewakili substansi. Dan inilah yang sering menjebak pemahaman kita.

Sebagai contoh, ketika Allah mengatakan bahwa Allah 'melihat' seluruh makhlukNya. Kita seringkali terjebak pada persepsi bahwa Allah memiliki mata, sebagaimana manusia memiliki mata.

Demikian pula ketika Dia mengatakan bahwa Dia 'Maha Mendengar' segala ucapan. Kita pun lantas menyimpulkan seakan-akan Allah memiliki telinga.

Bahkan, ketika Allah mengatakan bahwa Dia menggulung langit dengan tangan kananNya, kita pun membayangkan betapa Allah memiliki tangan. Malahan sepasang, kanan dan kiri. Padahal, pasti bukan demikianlah keadaanNya.

Bahasa memunculkan persepsi. Sedangkan persepsi terbentuk dari pengalaman dan wawasan. Maka jika pengalaman dan wawasan kita sempit, persepsi itu pun ikut sempit. Jika kita ingin memperluas dan menyempurnakan persepsi, kita harus memperluas wawasan dan pengalaman, lewat aktivitas konkret sebanyak-banyaknya.

Begitulah sebenarnya konsep dasar dan mekanisme beragama. Allah memerintahkan banyak-banyak beramal kebajikan, karena dengan beramal itu kita akan mengenal DzatNya yang Maha Sempurna dan Maha Agung. Bukan hanya lewat teori sekadar membaca Al Qur’an. Karena sesungguhnya, inti semua peribadatan kita adalah upaya untuk mengenal dan mendekatkan diri kepadaNya belaka. Dan akhirnya, memuncak dengan berserah diri sepenuhnya KepadaNya.

Nah, bahasa Arab yang dipilih sebagai bahasa Al Qur’an mengkomunikasikan Sifat-Sifat Allah seluas-luasnya. Dengan harapan, kita bisa mempersepsinya secara baik. Mau tidak mau, semua itu menggunakan ungkapan-ungkapan yang sangat manusiawi. Dan karena itu sangat terbatas.

Maka, jangan heran jika Allah memperkenalkan diri secara personifikasi. Punya mata, telinga, tangan, kursi dan singgasana. Tapi kita jangan memahaminya hanya berdasarkan satu dua ayat saja itu bisa menjebak pemahaman kita.

Pemahaman yang lebih baik adalah dengan mengambil sebanyak-banyaknya ayat-ayat tentang Allah. Barulah kemudian kita boleh menafsirinya secara komplementer, saling melengkapi. Berarti kita harus membaca dan memahami minimal 3.326 ayat tersebut? Ya, begitulah!

Dalam memahami makna Al Qur’an, saya memilih metode menyusun puzzle. Anda pernah bermain puzzle? Itu adalah permainan menyusun kembali gambar yang terpotong-potong menjadi banyak bagian. Suatu misal, ada gambar Beruang dengan pemandangan hutan di belakangnya. Gambar itu dipotong-potong menjadi 20 bagian lebih kecil.

Potongan-potongan gambar itu diburai, kemudian Anda diminta untuk menyusun kembali seperti yang seharusnya. Tentu saja, Anda harus mengambil dan menyusun semua potongan itu agar membentuk gambar yang sempurna. Jika tertinggal satu potongan saja, maka gambar Beruang dan pemandangan di belakangnya bakal tidak sempurna.

Nah, bagi saya, begitulah cara yang baik dalam memahami Al Qur’an. Kenapa demikian? Karena Al Qur'an adalah informasi yang saling melengkapi dan saling menjelaskan antar ayat-ayatnya. Tidak ada ada pertentangan di dalamnya. Hal ini dikemukakan sendiri oleh Allah.

QS An Nisaa' (4) : 82
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.

QS. Yusuf (12) : 111
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

QS. Al Baqarah (2) : 185
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelas an mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Ayat-ayat tersebut memberikan guidance kepada kita bahwa pemahaman atas Al Qur’an harus didasarkan pada konsep: tidak ada pertentangan antar masing-masing ayat; semua ayat itu sudah bisa menjelaskan segala sesuatu; dan pemahaman yang diperoleh adalah berupa petunjuk lebih lanjut untuk dijalankan dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Maka, ketika kita berbicara tentang Allah dari dalam Al Qur’an, kita juga menyikapinya dengan cara yang sama.
1. Semua informasi itu harus kita pakai untuk saling melengkapi maknanya. Kita tidak boleh mengambil sejumlah ayat, dan mengabaikan makna ayat lainnya. Apalagi saling mempertentang- kannya kalah mengalahkan antar ayat.
2. Dengan ayat-ayat itu sudah cukup untuk memperoleh kepahaman dan guidance, dalam rangka merekonstruksi lebih jauh lewat kegiatan-kegiatan empirik dalam kehidupan kita.
3. Dan lewat kegiatan empirik itulah kita lantas memperoleh kepahaman yang lebih dalam. Karena, ternyata ayat-ayat Qur'an itu memperoleh komplemen alias pasanganya di ayat-ayat 'Kauniyah' yang terhampar di sekitar kita. Teori (ayat-ayat Qauliyah) dan 'praktek' (ayat Kauniyah) akan menghasilkan kepahaman yang mengarah pada kesempurnaan. Itulah saat-saat seorang hamba bisa mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.. .

Dengan demikian, Allah telah memperkenalkan DiriNya dengan mekanisme yang sempurna. Tinggal, apakah kita mau dan mampu menyambut perkenalan itu dengan tangan dan hati yang terbuka.

QS. Yusuf (12) : 105
Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.

Personifikasi yang tergambar dalam ayat-ayat Qur'an itu justru akan menemukan 'bentuk' yang lebih abstrak, ketika kita padukan dengan ayat-ayatNya di alam semesta.

Kebesaran Allah, misalnya. Persepsi kita tentang Allah Maha Besar, ketika membaca ayat Qur'an dengan ketika 'membaca' ayat Kauniyah di Langit dan Bumi, sungguh sangatlah berbeda.

Ketika membaca Al Qur’an, yang kita peroleh tidak lebih dari makna bahasa, bahwa Allahu Akbar adalah bermakna Allah Maha Besar. Tapi, ketika kita membaca ayat-ayat Kauniyah tentang Langit dan Bumi, Makna Allahu Akbar itu menjadi demikian 'Besar Tak Terperikan'. Membuat hati kita tercekat mengagumi KebesaranNya. ..

Demikian pula ketika kita memahami makna Subhanallah dari ayat-ayat Qur'an, yang kita peroleh adalah sekadar arti 'Maha Suci'. Tapi, ketika kita membacaNya dari ayat-ayat Kauniyah, kita memperoleh kepahaman bahwa yang disebut Maha Suci itu bukan berarti Allah 'meninggalkan' benda-benda dan tempat-tempat yang kita anggap kotor. Melainkan, justru memperoleh gambaran betapa Allah adalah Dzat yang mengatur dan mengendalikan semua kekotoran dan kebersihan dalam tatanan seimbang untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Bahkan lebih jauh, makna kata Subhanallah itu memberikan gambaran betapa Allah adalah Dzat yang tidak tersentuh oleh sifat-sifat keterbatasan seperti makhlukNya. Jadi, bagi Dia, kotor dan bersih itu tidak ada bedanya. Karena semua itu bersumber dari DzatNya.

Baik dan buruk, demikian pula adanya; sebab Dialah yang menciptakan malaikat dan setan sebagai 'aparat' kebaikan dan keburukan. Surga dan neaka sebagai balasan atas keduanya.

Ya, seluruh ruang, waktu, materi, energi dan etika (sistem nilai) juga tidak ada pengaruh bagiNya. Ia adalah Dzat Yang Maha Suci dari segala keterbatasan kepahaman kita.

Maka, jangan heran, meskipun Allah telah memperkenalkan DiriNya kepada kita, Dia masih menambahkan bahwa DzatNya jauh lebih Dahsyat daripada yang telah kita pahami.

QS. Asy Syuura (42) : 11
(Dialah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Ketika Allah menginformasikan, bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya, maka sesungguhnya Dia telah mengatakan bahwa segala kepahaman kita tentang DzatNya tidak ada yang sempurna.

Kita menganggap bahwa Allah melihat dengan mata, misalnya. Sebenarnya adalah salah. Sebab Allah tidak serupa dengan yang kita bayangkan.

Ketika Allah mengatakan bahwa Dia Maha Mendengar, dan kemudian kita mempersepsiNya sebagai Dzat yang memiliki telinga, maka kita pun sedang tidak benar dalam mempersepsi Allah. Karena Ia tidak serupa dengan pemahaman itu.

Atau ketika kita menganggap Dia memiliki tangan karena menggulung langit dengan tangan kananNya, sebenarnya, lagi-lagi kita telah keliru mempersepsi DzatNya. Karena Ia memang bukan seperti yang tergambar dalam benak kita.

Dan masih banyak lagi informasi dalam Al Qur’an yang kita persepsi secara keliru, karena terjebak oleh ungkapan-ungkapan yang bersifat personifikasi. Di antaranya adalah Allah memiliki kursi 'Singgasana' , bersemayam di atas Arsy, memiliki Kerajaan, Allah Berbicara kepada hambaNya, dan sebagainya, dan seterusnya.

Semua itu adalah sekadar ungkapan manusiawi yang sangat terbatas atas Sifat-Sifat Ketuhanan yang Tiada terbatas. Allah 'terpaksa' menggunakan bahasa yang dikuasai oleh manusia untuk memperkenalkan diriNya. Maka, DzatNya lantas menjadi terpersonifikasikan secara terbatas pula, seiring dengan persepsi kita.

Tapi, bukan berarti kita lantas tidak bisa dan tidak boleh mempersepsi Allah. Jangan lantas mengatakan: 'kalau begitu nggak usah memahami Allah saja, toh kepahaman kita itu selalu keliru.'

Bukan begitu! Maksud ayat itu adalah untuk menyadarkan kita bahwa Allah yang kita persepsi itu sebenarnya 'belum' Dzat Allah yang sesungguhnya. Masih kurang Besar. Masih Kurang Suci, Masih kurang Perkasa. Masih Kurang Agung. Dan masih kurang Dahsyat dengan segala kemutlakanNya. ..

Ya, Allah adalah Dzat yang Kualitas Keagungan dan Kesuciannya tiada terhingga. Kita diajari untuk terus membangun kepahaman menuju kepahaman tiada berhingga itu. Bukan berpuas diri pada kepahaman sementara yang berkualitas rendah.


Disinilah memang kuncinya. Allah sedang menggiring kita menjadi manusia berkualitas tinggi lewat proses pemahaman itu. Manusia adalah makhluk tertinggi yang pernah diciptakan Allah. Karena itu kita harus menuju kualitas tertinggi itu.

Bagaimana caranya? Dengan 'memompa' setinggi-tingginya kualitas kemanusiaan kita. Meningkatkan substansinya lewat fungsi akal dan jiwa, berdasarkan pencerahan ilmu pengetahuan. Inilah yang sebagiannya telah kita bahas dalam diskusi sebelumnya :'Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh'.

Karena itu, Allah sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan lebih dari yang lain. Ilmu pengetahuan memberikan pencerahan pada jiwa. Dan pada gilirannya memberikan kemampuan mengenal Dzat Allah dengan lebih baik.

QS. Al Ankabuut (29) : 43
Dan perumpamaan- perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

QS. Ali Imran (3) : 18
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. Al Mujaadilah (58) : 11
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapangla h dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi i1mu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu tinggi Allah menghargai orang-orang yang berilmu. Bahkan sebagaimana malaikat, mereka adalah orang-orang yang paham tentang eksistensi Ketuhanan. Belum sempurna, memang. Tapi terus menuju pada kesempurnaan. Kepahaman yang sesungguhnya akan terjadi ketika kita 'bertemu' denganNya kelak, di hari Akhir..

QS. Ar Ra'd (13) : 2
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya) , menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) , supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

QS. Huud (11) : 29
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".


MANUSIA MENGIKUTI FITRAH ALLAH

Ada yang berpendapat bahwa manusia adalah 'fotokopi' dari Dzat ketuhanan. Salah satu dasarnya adalah ayat yang mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dengan mengikuti fitrahNya. Seperti apa Fitrah Allah, maka seperti itu pulalah fitrah manusia.

QS. Ar Ruum (30) : 30
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Tapi, saya kira kita tidak boleh berlebihan dalam mempersepsi hal ini. Jangan sampai, misalnya, karena kita adalah fotokopi dariNya, maka kita menganggap Dzat Ketuhanan itu berbentuk seperti manusia, dalam ukuran yang sangat besar!

Pemahaman seperti ini akan bertabrakan dengan berbagai ayat yang ada di dalam Al Qur’an, yang sama-sama menceritakan tentang eksistensiNya. Banyak ayat yang menceritakan Sifat-Sifat Ketuhanan yang harus kita rumuskan secara holistik. Di antaranya, bahwa Dia adalah Dzat Tunggal yang tidak tersusun dari bagian-bagian. Dia adalah Dzat yang Maha Besar, yang besarnya tidak ada yang menyamai atau pun menandingi. Dia juga Dzat yang Maha Tinggi, Maha Luas, sekaligus Maha Halus, meliputi yang kecil-kecil dalam skala mikro.

Dia adalah Dzat yang Perkasa, Maha Berkuasa, sekaligus Maha Berkehendak, yang kehendakNya tidak ada yang membatasi. Dia Dzat yang Maha Pintar, Maha Berilmu, serta Maha Mengetahui, yang pengetahuanNya meliputi seluruh penjuru alam semesta atau lebih luas lagi. Dia adalah Dzat yang Maha Kaya, Pemberi Rezeki, Sangat Pemurah, sangat suka mengurusi kebutuhan makhluk Nya. Dan Seterusnya, dan seterusnya.

Namun demikian, jangan lupa, bahwa Dia juga mengatakan laisa kamitslihisyai- un. Dia adalah Dzat yang tidak seperti apa pun yang bisa kita bayangkan. Tidak ada yang serupa denganNya. Meskipun hanya selintas angan-angan di dalam pikiran!

Kenapa demikian? Karena untuk merumuskan perpaduan atas seluruh Sifat-SifatNya itu sangatlah kompleks luar biasa! Pikiran kita begitu terbatasnya untuk bisa memahami meleburnya sifat Maha Besar, tapi juga Maha Halus. Antara Maha Awal dan Maha Akhir. Antara Maha Penyayang, tapi juga Maha Keras SiksaNya. Atau, Dzat yang berada di Timur dan Barat dalam waktu yang bersamaan. Atau Dzat yang memiliki sifat Maha Zhahir dan Maha Bathin. Dan, seluruh Sifat Sifat kontradiksi yang pernah kita kenal, atau bahkan yang belum pernah kita ketahui...

Persepsi yang terbentuk dalam benak kita terhadap DzatNya sangat bergantung kepada kemampuan kita dalam memahami perpaduan seluruh sifat kontradiksi itu sebagai suatu Dzat Tunggal. Itulah Dzat Allah Azza waialla, Dzat Maha Dahsyat yang Tiada Terbatas!


Proses pemahamannya bakal berlangsung dalam skala yang tidak terhingga. Karena memang Allah adalah Dzat yang Tiada Berhingga. Bayangkan, untuk memahamiNya, kita harus mengumpulkan dan merumuskan secara Tunggal, semua variabel Sifat-Sifat yang pernah kita kenal dan yang tidak kita kenal, dalam skala tidak berhingga.

Pasti, problem kita akan sangat kompleks. Problem pertama, kita bakal kesulitan mengumpulkan semua variabel yang jumlahnya tidak berhingga tersebut. Yang kedua, kita akan kesulitan karena juga harus mengumpulkan Sifat-Sifat yang tidak kita kenal. Dan yang ketiga, pada saat merumuskanNya kita bakal kesulitan 'merangkum' skala tak berhingga itu dalam kefahaman praktisnya. Apalagi untuk 'mengukur' rumusan itu.

Ya, kalau semua yang kita kenal ternyata berada di dalam Kebesaran Allah, bagaimanakah kita bisa mengukur kebesaran Allah! Kita kan berada di dalamNya, kok mau mengukur besarnya dari dalam.

Mestinya, agar ukurannya bisa benar, kita harus mengukurnya dari luar. Tapi sayang, kita tidak bisa keluar dari DzatNya, karena Dia begitu besarnya. Tidak ada yang lebih Besar dari pada Nya.

Begitu pula, kalau seluruh dimensi waktu berada di dalam Kebesaran DzatNya, bagaimana pula kita bisa menggunakan 'waktu' untuk mengukur KeberadaanNya? Lha wong, waktu itu sendiri cuma merupakan 'secuil' EksistensiNya! Hanya berlaku pada 'sebagian kecil KeberadaanNya' .

Saking Besarnya Dia, maka ada bagian yang tidak berhingga, yang, waktu sudah tidak bermakna lagi ketika digunakan untuk mengukurnya.

Demikian pula, kalau seluruh ukuran energi dan materi berada di dalam Kebesaran DzatNya, bagaimana pula kita bisa mengukur Kuantitas dan Kualitas Nya? Bukankah segala ukuran benda dan energi hanya 'sak ndulit' dari Kebesaran Dzat yang tak ada tepiNya.

Dan, kalau seluruh 'sistem nilai' yang berlaku di alam semesta ini semuanya bersumber dari Kebesaran dan Keagungan Sifat-SifatNya, bagaimana pula kita bisa mengukur Allah itu dengan ukuran Baik dan Buruk? Adil atau Sewenang-wenang, Pemurka ataukah Bijaksana, Pemurah atau Pelit, Penuh Perhatian ataukah Cuek!

Allah menjadi sumber dari seluruh sifat-sifat itu.Baik dan Buruk melebur dalam kemutlakan SifatNya. Adil dan Sewenang-wenang juga melebur dalam Kemutlakan SifatNya. Pemberi Rezeki dan Penahan Rezeki juga menyatu dalam kemutlakan DzatNya. 'Penyantun' dan Penyombong juga lebur di dalam DiriNya. Pokoknya, seluruh kontradiksi dari kutub-kutub ekstrim Sifat-Sifat, telah lebur dari menyumber dari DzatNya yang Maha Agung...

Dia tidak terikat oleh seluruh sistem nilai, malah sebaliknya, menjadi sumber dari sistem nilai. Bagaimana mungkin, kita bisa mengenakan sistem nilai untuk mengukur dan menilai Dia?

Sungguh, kita tidak akan pernah mampu untuk merumuskan Dzat yang Luar Biasa Dahsyatnya itu? Segala 'ukuran' lenyap tertelan oleh Kebesaran dan Keagungan DzatNya. Itulah yang dimaksudkan Allah dengan kalimat: laisa kamitslihi syai-un tidak ada rumusan apa pun yang menyerupaiNya. Meski hanya selintas dalam pikiran... !

Nah, itulah Fitrah Allah. Fitrah Dzat Ketuhanan yang tidak bisa kita ukur EksistensiNya. Tidak seperti apa pun yang bisa kita bayangkan.

Lantas, Allah menginformasikan bahwa Dzat itu telah menciptakan manusia mengikuti FitrahNya yang begitu dahsyat. Ooh, beranikah kita membayangkan bahwa eksistensi kita adalah seperti Eksistensi Ketuhanan itu? Adakah realitas yang menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas kita sederajat denganNya?

Benarkah kita memiliki kekuasaan yang tiada terhingga? Benar jugakah kita memiliki sifat-sifat pemurah yang tak pilih kasih? Apa benar kita memiliki sifat-sifat Ketuhanan dalam skala begitu besarnya? Kalau kita mau jujur, jawabnya pasti cuma satu: tidak!

Kita memang memiliki dzat berupa badan wadag ini. Tapi, tubuh dan badan wadag yang terbatas. Kita memiliki ‘daya Hidup’, tapi juga kehidupan yang terbatas. Kita memiliki kehendak, namun kehendak yang terbatas. Kita pun memiliki kekuasaan, tapi juga kekuasaan yang terbatas. Kita punya seluruh sifat-sifat Allah : pemurah, pengasih, penyombong, pemarah, pemaaf, penyiksa, bijaksana, keadilan, kejujuran dan seluruh sifat-sifat Allah lainnya, tetapi dalam skala yang sangat terbatas!

Inilah yang dalam diskusi sebelumnya : Menyelam ke samudera Jiwa dan Ruh, telah kita bahas beberapa. Bahwa Allah telah meniupkan 'sebagian' RuhNya kepada manusia, sehingga manusia 'ketularan' Sifat-Sifat Ketuhanan. Tapi dalam skala makhluk. Tentu saja sangat berbeda dibandingkan dengan skala Ketuhanan. Dalam kualitasnya maupun kuantitasnya.

Ya, fitrah manusia adalah ‘sebagian’ kecil dari Fitrah ketuhanan. Atau dalam bahasa yang lain, manusia adalah derivative alias 'turunan' dari Dzat Ketuhanan. Karena itu, manusialah yang dipilih sebagai khalifah di muka bumi. Manusia menyandang sifat-sifat ketuhanan dalam skala terbatas. Teristimewa ia memiliki 'kehendak bebas' untuk menentukan dirinya. Sifat ini diturunkan dari Sifat Allah Al Iradat Yang Maha Berkehendak.

Berbeda dengan malaikat dan iblis yang keduanya tidak memiliki 'kehendak bebas'. yang karena itu tidak ditunjuk sebagai khalifah. Mereka hanya ditunjuk sebagai 'aparat' saja. Tidak punya pilihan. Yang satu sebagai aparat kebaikan, dan lainnya sebagai aparat keburukan.

Ketinggian derajat manusia ditumpukan kepada 'kebebasan kehendaknya' . Dan karena kebebasannya itu ia harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Ia dipersilakan memilih sifat-sifat malakiyah ataukah sifat-sifat setaniyah, dengan segala konsekuensinya.

Memilih sifat-sifat setaniyah berarti menuju pada api bernyala-nyala yang sangat panas, menjanjikan penderitaan. Sedangkan memilih sifat-sifat malakiyah berarti menuju pada cahaya yang terang benderang yang menjanjikan kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan

Dimanakah Allah Ta’ala ?

Apabila dikatakan kepadamu, “Dimanakah Allah Ta’ala ?”


Maka katakanlah,

“Allah Ta’ala berada di atas langit dan beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy.


Allah Ta’ala berfirman,

‘Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang ?’ (QS. Al Mulk : 16)

Allah Ta’ala berfirman,

‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. ThaaHaa : 5)

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

‘Yanzilu rabbunaa tabaraka wa ta’aala kulla laylatin ilas samaa-id dunyaa hiina yabqa tsulutsul lailil aakhir, man yad’uunii fa-astajiba laHu, man yas-alunii fa-u’thiiHi, man yastaghfirunii fa-aghfira laHu’

(yang artinya)

‘Rabb kalian turun ke langit dunia tatkala sepertiga malam terakhir dan Dia mengatakan, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, pasti aku akan mengabulkannya, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku, pasti akan Kuberikan dan barangsiapa meminta ampun kepada-Ku. Aku akan mengampuninya’’ (HR. al Bukhari dan Muslim).

Dan telah diketahui bahwa yang dinamakan turun tidak terjadi kecuali dari atas”.


Sumber Bacaan :

Prinsip-prinsip Tauhid, Aqidah dan Manhaj oleh Syaikh Yahya bin Ali al Hajuri, Maktabah al Ghuraba’.

Mudah-mudahan Bermanfaat.





ReviewReviewReviewReviewReviewEKSISTENSI MALAIKATMay 8, '07 2:39 AM
for everyone
Category:Other
EKSISTENSI MALAIKAT
Fiqih Quran & Hadist Oleh : Redaksi 03 Jun, 05 - 2:30 am

Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.

Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk gaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara.
Pertama, melalui berita atau informasi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar). Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk gaib itu ada (bil atsar).

Salah satu makhluk gaib Allah adalah malaikat.

Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya.

Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Jumlah malaikat sangat banyak [kita tidak akan membahas lagi kata jumlah dalam dimensi ghaib]. Beberapa nama malaikat yang perlu dikenal adalah :


Jibril (Ruhul Amin, Ruhul Qudus, Gabriel).

Bertugas menyampaikan wahyu dari Allâh.

Mikail (Michael). Mengatur urusan pengaturan semesta, termasuk rizqi manusia.

Izrail (Malaikat maut). Mencabut ruh semua makhluk.

Israfil. Meniup sangkakala pertanda hari kiamat.

Raqib. Mencatat amal baik manusia.

Atid. Mencatat amal buruk manusia.

Munkar dan Nakir. Menanyai manusia yang baru wafat.

Ridwan.Menjaga surga.

Malik Menjaga neraka.

Maka untuk meyakini dan mengimani keberadaan malaikat bisa ditempuh dengan dua cara.
Pertama, melalui berita (akhbar) yang disampaikan oleh firman Allah dalam Al-Qur‘an maupun sabda Rasulullah SAW dalam Hadits. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits yang menjelaskan perihal malaikat. Karena kita mengimani kebenaran sumber (Al-Qur‘an dan Hadits), maka berita tentang malaikat pun kita imani adanya.

Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani wujud malaikat melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada. Misalnya, Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa manusia, dapat dibuktikan secara nyata dengan adanya peristiwa kematian manusia. Demikian pula dengan keberadaan Malaikat Jibril, bisa dibuktikan secara nyata dengan adanya Al-Qur‘an yang disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Secara etimologis (lughawiy), kata “malaikah” yang dalam bahasa Indonesia disebut “malaikat,” adalah bentuk jamak dari kata “malak,” berasal dari mashdar “al-alukah” yang berarti ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi disebut “ar-rasul” (utusan). Dalam beberapa ayat Al-Qur`an, malaikat juga disebut dengan “rusul” (utusan-utusan), misalnya pada surat Hud 69. Bentuk jamak lainnya dari kata “malak” adalah “mala`ik.” Dalam bahasa Indonesia, kata “malaikat” bermakna tunggal (satu malaikat), bentuk jamaknya menjadi “malaikat-malaikat.”

Secara terminologis (isthilahiy), makaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya (nur) dengan wujud dan sifat-sifat tertentu.

Tentang penciptaan malaikat, Rasulullah SAW menginformasikan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya (nur), berbeda dengan jin yang diciptakan dari api (nar):

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua” (HR. Muslim).

Tentang kapan waktu penciptaannya, tidak ada penjelasan yang rinci. Tapi yang jelas, malaikat diciptakan lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS) sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 30:

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (Al Baqarah 30).


Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicipi (dirasakan) oleh manusia. Dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, kecuali jika malaikat menampilkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan beberapa peristiwa malaikat menjelma menjadi manusia, seperti:

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: Selamat. Ibrahim menjawab: Selamatlah, maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (Hud 69 70).

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur`an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur maka ia mengadakan tabir (yang malindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya,
maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (Maryam16 17).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat Jibril pernah datang dalam rupa manusia menemui Rasulullah SAW –disaksikan oleh sahabat sahabat beliau, antara lain Umar bin Khaththab– dan menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Sa’ah (Kiamat). Setelah malaikat itu pergi barulah Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: “Ya Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi. Umar menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang mengajarkan ad diin kepada kalian.” (HR. Muslim).
Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan kehidupan alam semesta yang kita saksikan ini. Yang mengetahui hakikat wujudnya hanyalah Allah SWT.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada perbedaan dan tingkatan tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukan. Allah menyebutkan bahwa ada malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fathir 1).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melihat Jibril bersayap enam ratus: “Rasulullah SAW melihat Jibril ‘alaihis salam bersayap enam ratus”(HR.Muslim).

Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam menjalankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk sayap tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya karena –seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya– malaikat adalah makhluk gaib (immaterial) yang hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. (Sumber majalah Tabligh & Isnet)

Wallahu a’lamu bis-shawab.

ReviewReviewReviewReviewReviewUrgensi DzikirApr 25, '07 3:31 AM
for everyone
Category:Other
Urgensi Dzikir

Oleh : Nurhadi M Musawir

Makna umum dzikir adalah mengingat Allah. Secara khusus dzikir dipahami sebagai metode ( riyadhah) untuk membersihkan dan menyucikan hati.

Dengan berdzikir dapat membersihkan hati sedikit demi sedikit. Saat berdzikir, akan terbangun suatu penyesalan atas dosa-dosa yang dilakukan sehingga ada kehendak memperbaiki akhlaknya.

Berdzikir kepada Allah merupakan upaya peningkatan kualitas hati. Saat hati tenggelam dalam zikrullah (ingat kepada Allah) akan meningkat penghayatan dan pengalaman rasa cinta pada Tuhan. Kalau manusia sentiasa ingat akan Allah dalam kondisi apa pun, dan menyadari dirinya hadir di hadapan Sang Mahakuasa, tentu dia menahan diri dari sesuatu perkara yang tidak sesuai dengan keridhaan-Nya. Dia akan mengendalikan diri dari perbuatan yang akan menimbulkan kemurkaan-Nya.

Dia akan menyadari, semua malapetaka dan penderitaan yang ditimbulkan hawa nafsu dan godaan setan disebabkan oleh lupa akan Tuhan dan hukuman-Nya. Lupa terhadap Tuhan akan menggelapkan hati, membuat resah dan gelisah serta memberi peluang hawa nafsu dan setan menguasai manusia.

Jika kita melaksanakan dzikir dengan asyik dan khusyuk, kita akan merasakan kenikmatan, kelezatan, dan kemanisannya. Dengan berdzikir, jiwa manusia akan begitu dekat dengan Tuhannya, merasa tenang jiwannya, dan mendapatkan pengalaman spiritual yang dalam.

Kejauhan dan kedekatan seorang hamba dari Tuhannya bukanlah berarti kajauhan atau kedekatan ruang dan waktu. Nabi bersabda dalam hadis Qudsinya, ''Alah berfirman, Aku ini sebagaimana yang disangka oleh hamba-Ku, Aku bersama dia apabila ia ingat kepada-Ku, apabila ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun ingat padanya dalam diri-Ku, dan apabila ia mengingat-Ku dalam ruang yang luas, Aku pun ingat padanya dalam ruang yang lebih baik.''

Dengan demikian, orang yang meletakkan dzikir bagian dari hidupnya dan menjalankan dzikir secara bersungguh-sungguh, tidak akan mempunyai rasa khawatir dalam menjalani hidup. Dia tidak memiliki keraguan dalam menjalankan suatu kebenaran, tidak memiliki rasa dendam dan kedengkiaan, serta tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Hati mereka tenang, dan jiwa mereka tenteram.

Firman Allah SWT, ''(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir kepada Allah. Ingatlah hanya dengan dzikir pada Allah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra'd [13]: 28). Semoga kita adalah orang yang senantiasa berdzikir.'' Amin.

Sumber: republika

Blog EntryKomponen BahagiaApr 20, '07 11:55 PM
for everyone

Tujuh Komponen Sederhana untuk Bahagia

 

1.         Tidak seorangpun dapat kembali ke awal dan membuat permulaan yang baru,

tetapi setiap orang dapat memulai dari sekarang dan membuat akhir yang baru.

 

2.      Tuhan tidak menjanjikan hari hari tanpa sakit, tawa tanpa

kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Ia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,

penghiburan atas air mata dan cahaya dalam perjalanan.

 

  1. Kekecewaan adalah seperti lubang di jalan, yang sedikit memperlambat mu, tetapi kemudian engkau menikmati jalan yang mulus. Jangan tinggal di lubang terlalu lama. Maju terus!

4.      Jika engkau kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kau

inginkan, duduklah tegak dan berbahagialah, karena Tuhan sudah memikirkan

sesuatu yang lebih baik untuk diberikan padamu.

 

  1. Jika sesuatu terjadi padamu, baik ataupun buruk, pertimbangkan apa artinya.  Ada tujuan pada setiap kejadian dalam hidup, untuk mengajarkanmu bagaimana lebih banyak tertawa atau tidak menangis tersedu sedu.

  1. Engkau tidak bisa membuat seseorang mencintaimu,  yang dapat kau lakukan adalah menjadi seseorang yang dapat dicintai,  selebihnya terserah pada orang itu untuk menyadari nilaimu.

 

7.          Jangan mengabaikan teman lama.

Engkau tidak akan menemukan orang yang dapat menggantikannya.  

Persahabatan itu seperti anggur, Semakin tua semakin baik.

 

Aku dapat dari seseorang


Blog EntryAir MataApr 18, '07 3:04 AM
for everyone

Air Mata

Oleh : Umi Nurtri Ratih


''Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis
dan mereka bertambah khusyuk.'' (QS Al-Israa [17]: 109).

Seringkali, ketika sesuatu terjadi di luar rencana, harapan dan keinginan
lewat tak tertangkap barulah manusia mengingat Dia. Sadar dirinya
tak mampu berbuat apa-apa, jika Allah sudah berkehendak. Saat itu
biasanya manusia menangis atau berkeinginan untuk menangis. Namun,
tak lama bila ada harapan dan keinginan yang terwujud, maka tertawalah ia
dan lupa lagi kepada Sang Pemberi Harapan.

Amat biasa, manusia menangis, melelehkan air matanya, ketika merasa
hancur, tujuannya gagal, harapannya kabur, dan cita-citanya berantakan.
Atau, apabila yang telah diupayakannya mengalami kebuntuan. Menangis
adalah cara Allah menunjukkan kekuasaan dan kemahabesaran-Nya.
Air mata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manusia
agar senantiasa mengingat-Nya. Titik-titik air bening dari kelopak mata
itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap
mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah menurunkan hujan dari gumpalan awan untuk membasahi
bumi dari kekeringan hingga tumbuh sayur segar dan buah yang ranum.
Seperti itulah barangkali tangis manusia akan membasahi kekeringan hati
dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia
yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah-bongkah keangkuhan dalam dada,
hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong.
Air mata itu akan melelehkan pandangan mata dari meremehkan orang lain
dan semakin menjernihkan kacamata untuk lebih bisa melihat kemahabesaran
dan kekuasaan Allah. Titik-titik bening itu akan membersihkan debu-debu
pengingkaran yang menyesaki kelopak mata yang menjadikan sering kali
lupa bersyukur atas nikmat pemberian-Nya.

Semestinya pula, melelehkan air mata membuat hati tetap basah oleh
ke-tawadlu-an, qona'ah, dan juga cinta terhadap sesama. Air mata menjadi
penyadar bahwa apa pun yang kita upayakan semua tergantung pada-Nya.
Tak ada yang patut disombongkan pada diri di hadapan sesama apalagi
di hadapan Dia. Air mata akan mengantarkan kita pada kekhusyukan.

Bersyukurlah bila masih bisa meneteskan air mata. Namun, air mata
menjadi tak ada artinya jika setelah tetes terakhir, tak ada perubahan
apa pun dalam langkah kita. Tak akan ada hikmahnya, bila kesombongan
masih menjadi baju utama kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Blog EntryMenangisApr 18, '07 2:59 AM
for everyone

Menangis Dalam Islam

 

Kondisi hati manusia tidak pernah stabil, selalu berbolak-balik, menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan, maka hatinya akan merasakan kegembiraan, dan ketika dilanda musibah, tidak sedikit orang yang kemudian berputus asa, lalu berpaling dari kebenaran. Naudzubillahimin dzalik.

 

Kemantapan jiwa seseorang berbanding lurus dengan kualitas keimanannya. Semakin menipis keimanan dalam jiwanya, maka semakin sering hatinya tergoncang. Apabila keimanan dalam jiwanya begitu dalam (kuat), maka hatinya akan lebih stabil dan akan tabah dalam menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya.

 

Ketika seseorang mengalami kesedihan yang mendalam, maka bisa jadi dia akan menangis karenanya. Bagi sebagian orang, menangis adalah hal hina yang menandakan kelemahan jiwa.  Orang Yahudi selalu menyebut 'cengeng' manakala mendapati anak-anak mereka menangis, dan dikatakan tidak akan mampu menghadapi musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegarmenghadapi hidup. Menangis dalam pandangan mereka adalah hal yang hanya dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai prinsip hidup.

 

Berbagai anggapan di atas, tentunya tidak sepenuhnya benar.  Bagi seorang Muslim yang Mukmin, menangis merupakan kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa diri maupun ummatnya. Rasulullah saw meneteskan air mata ketika ditinggal mati oleh anaknya yang bernama Ibrahim. Beliau mengatakan, betapa sedih hatinya ditinggal anaknya itu. Padahal kita semua tahu bahwa Rasulullah adalah sosok pribadi yang paling tegar dalam menghadapi cobaan hidup, baik fisik maupun mental.

 

Sedangkan Abu Bakar ash-Shiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (orang yang selalu menangis).  Beliau senantiasa menangis, dadanya kerap bergolak manakala shalat di belakang Rasulullah saw karena mendengar ayat-ayat Allah.

 

Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada seseorang yang sedang membacaal-Qur'an. Ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika)manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam (QSAl-Muthaffifin: 6), saat itu juga beliau diam, berdiri tegak, dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Rabnya, kemudian beliau menangis.

 

Ummat bin Khattab, seorang yang dikenal paling tegas, justru luluh hatinya ketika suatu mendengar seseorang membaca surat Ath-Thur sampai pada ayat ketujuh yang berbunyi:  "Sesungguhnya siksaan Rabmu pasti terjadi?. Beliau bahkan seketika itu jatuh pingsan."

 

Gambaran di atas menjelaskan betapa Rasulullah saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

 

Bukankah di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari di manatiada naungan Allah?  adalah orang yang berdoa kepada Rabnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Meneteskan air mata dalam kesendirian akan sulit terjadi jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru berbuat maksiat. Tidak sedikit bahkan mereka yang mengaku Mukmin pun berbuat maksiat di kala sendiri di dalam kamar ataupun di tempat lain yang dianggapnya tidak ada orang yang melihat seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesedihan di kala berdoa kepada Rabnya karena banyak dan beratnya tugas yang harus diembannya di dunia ini.

 

Di zaman ketika manusia lalai dalam kehidupan dunia, seorang Mukmin senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata begitu melihat kehancuran ummatnya. Kesedihannya yang mendalam dan ihtimam-nya(perhatiannya) terhadap kondisi ummat menjadikannya orang yang tanggap terhadap kebutuhan ummat.

 

Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah.

 

Ketika kaum Muslimin banyak yang terbunuh, terusir dari kampung halamannya akibat konspirasi musuh-musuh Allah, maka kaum mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya.  Ketika seorang Mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga atau harta, dia akan berdoa memohon dengan sangat kepada Rabb semesta alam seraya terus berjuang menegakkan dinullah (Islam).

 

Ketika Rasulullah saw mengumumkan perang terhadap orang kafir, para sahabat dengan kesungguhan hati menginfaqkan hartanya untuk ikut berperang. Namun di antara mereka ada yang datang ingin turut serta, kemudian Rasulullah saw berkata kepada mereka, "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu. Lalu mereka kembali, menangis sedih lantaran mereka tidak memiliki harta yang akan mereka belanjakan untuk berperang" (QS At-Taubah: 92).

 

Tidak mungkin hal itu terjadi pada jiwa seorang yang di dalam jiwanya ada sifat nifaq (munafik). Menangisnya mereka ketika tidak dapat pergi berperang telah menyebabkan turunnya ayat di atas, dan Allah mengampuni mereka karenanya. Tiada seorangpun di antara mereka yang lemah keimanannya. Justru karena dalam jiwanya penuh iman mereka menangis, karena tidak memiliki harta.

 

Menangis merupakan bentuk pengakuanterhadap kebenaran.  "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran(al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab merekasendiri) seraya berkata: “Ya Rabbi, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur'an dan kebenaran kerasulan Muhammad)" (QS Al-Maidah: 83).

 

Ketika Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslimin untuk hijrah ke negeri Habsyah, beliau meminta Ja'farbin Abdul Muthallib untuk memimpin kaum Muslimin. Beliau mengatakan bahwa di Habsyah ada raja Nasrani yang bijaksana.

 

Setibanya di kerajaan Habsyah, terjadi negosiasi antara kaum Muslimin (yang diwakili Ja'far) dengan raja Habsyah perihal keinginan kaum Muslimin untuk tinggal sementara di negeri Habsyah karena tekanan yang mereka alami di kampung halaman mereka (Mekah). Walaupun hasutan terhadap raja begitu gencar untuk menolak kaum Muslimin, namun raja yang bijaksana itu minta dibacakan apa yang dibawa Muhammad. Kemudian Ja'far membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22.

 

Demi mendengar ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah mengakui kebenaran ayat itu. Dia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut. Ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab, kemudian menangis. Allahu Akbar! Akhirnya kaum Muslimin diperbolehkan tinggal di negeri Habsyah. Demikianlah kapanpun dan di manapun kebenaran akan senantiasabenar. Dan para perindu kebenaran akan merasakannya manakala ia datang.

 

Orang yang keras hatinya, sulit untuk menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika dating teguran dari Allah sekalipun.  Ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran.  Sehebat apapun bentuk penghormatan Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik di zaman Rasulullah) kepada Muhammad saw, sedikitpun tidak bergetar hatinya ketika Allah Swt. mengecam perihal keadaan orang-orang munafik di akhirat nanti. "Sesungguhnya orang-orang munafik itu(ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagimereka.?" (QS An-Nisaa': 145).  Ingatlah hari ketika manusia banyakmenangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. "Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu merekakerjakan.? (QS At-Taubah: 82).

 

Barangkali ada di antara kita yang tidakpernah menangis, maka menangislah di saat membaca al-Qur'an. Menangislah ketika berdoa di sepertiga malam terakhir.  Menangislah karena melihat kondisi ummat yang terpuruk.  Atau, tangisilah diri sendiri karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman di dalam dada. Insya Allah.

 

This material was forwarded by Imam P.Hartono (IBRA/AMC)

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help